Tampilkan postingan dengan label sejarah asia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah asia. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 April 2009

Sejarah Vietnam Kuno

Bangsa Vietnam memiliki sejarah yang panjang dan keras sejak sebelum Masehi hingga akhir Perang Vietnam tahun 1975. Vietnam (Bahasa Vietnam: Việt Nam), bernama resmi Republik Sosialis Vietnam (Cộng Hòa Xã Hội Chủ Nghĩa Việt Nam) adalah negara paling timur di Semenanjung Indochina di Asia Tenggara. Vietnam berbatasan dengan Republik Rakyat Cina di sebelah utara, Laos di sebelah barat laut, Kamboja di sebelah barat daya dan di sebelah
timur terbentang Laut China Selatan.
Vietnam mencatat dalam kenangan perjalanan sejarahnya dominasi 1000 tahun oleh “Kerajaan Utara” untuk merujuk penguasaan Vietnam oleh Kekaisaran Cina dari Dinasti Han di utara yang bermula dari sekitar 200an tahun sebelum Masehi hingga tahun 939 Masehi. Dalam kurun waktu tersebut, Vietnam telah diduduki sebanyak tidak kurang dari empat kali, dan sebanyak itu pula bangsa Vietnam berhasil mengalahkan serbuan penjajah dari utara.
Sejarah Vietnam dapat ditinjau kembali ke abad ke-3 SM. Mayoritas catatan tertulis mengenai sejarah Vietnam dapat ditemukan dalam catatan-catatan sejarah Tiongkok. Sejarah Vietnam sendiri dapat golongkan dalam beberapa periode diantaranya:
1 Masa Pra-dinasti
2 Masa Dinasti-dinasti
3 Masa kolonialisme Perancis
4 Perang Vietnam
5 Pasca perang Vietnam
6 Đổi Mới
Masa Pra-dinasti

Sejarah Vietnam dapat ditarik kembali ke 2500 tahun yang lalu, namun, menurut legenda, bisa ditarik kembali ke 4000 tahun yang lalu. Vietnam, sejak abad 11 SM sampai abad 10 Masehi mayoritas berada di bawah kekuasaan kekaisaran Cina. Tahun 939 M, Vietnam merdeka secara politis, dan mulai menggunakan Champa sebagai nama negara.

Pada tahun 214 SM, beberapa tahun setelah Kaisar Qin Shihuang mempersatukan Tiongkok, ia mengirim bala tentara ke selatan Tiongkok untuk menaklukkan wilayah yang sekarang adalah Guangdong, Guangxi, Fujian dan utara Vietnam. Penaklukkan itu disertai dengan penaklukkan suku kuno Bai Yue. Setelahnya, Dinasti Qin mendukung migrasi suku Han secara besar-besaran ke selatan dan membentuk 3 provinsi di selatan.

Selang puluhan tahun kemudian, tahun 203 SM, Dinasti Qin terpuruk ke dalam kekacauan. Pada saat ini, pemimpin militer Qin di Nanhai (sekarang Vietnam utara), Zhao Tuo mengambil kesempatan ini untuk membentuk negara sendiri, Nan Yue, dengan Raja Wu. Ibukota negara Nan Yue berada di daerah Guangzhou sekarang. Namun, Nan Yue kemudian ditaklukkan oleh Kaisar Han Wudi dari Dinasti Han pada tahun 111 SM. Untuk lebih 10 abad selanjutnya, Vietnam utara secara langsung dikuasai oleh Dinasti Han, Dong Wu, Dinasti Jin, Dinasti Selatan, Dinasti Sui dan Dinasti Tang).

Masa Dinasti-dinasti

Pada masa ini pengaruh budaya Cina sudah merasuk pada kehidupan sosial budaya bangsa Vietnam, seperti nilai-nilai ajaran Konghucu, Taoisme. Bersamaan dengan itu juga berkembang kepercayaan Tam Giao (Tiga Agama), yaitu perpaduan dari Taoisme, kepercayaan masyarakat Cina dan animisme Vietnam.

Hengkangnya dominasi Kerajaan Utara mendorong munculnya Kerajaan-Kerajaan lokal seperti Dai Viet di utara dan Champa di selatan.

Kerajaan Champa mulai terbentuk tahun 192 dan berakhir sekitar tahun 1700an seiring mulai masuknya desakan dari kekuatan-kekuatan luar. Di masa lalu, kerajaan tersebut telah menjalin hubungan erat dengan Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit di Nusantara.

Di masa Kerajaan Champa, pengaruh budaya India deras masuk ke Vietnam. Pengaruh agama Budha dan Hindu serta kultur India mendominasi kehidupan masyarakat, yang terlihat pada bangunan-bangunan arsitektural dan kehidupan ritual masyarakatnya. Pengaruh budaya India ke Vietnam ini sebagian juga dibawa melalui Nusantara.

Periode Champa ini juga dikenal sebagai masa keemasan. Awalnya kerajaan terbagi dalam empat nagari, yaitu Amaravati (Quang Nam), Vijaya (Binh Dinh), Kauthara (Nha Trang), dan Panduranga (Phan Rang). Keempat nagari itu memiliki kekuatan armada laut yang kuat dan sering digunakan untuk mendukung kegiatan perdagangan. Pada tahun 400an Masehi, keempat nagari tersebut disatukan dalam suatu pemerintahan terpusat di bawah kendali Raja Bhadravarman. Pada 939 CE, orang-orang Vietnam berhasil mengalahkan militer Tiongkok di Sungai Bach Dang dan mendapatkan kemerdekaan setelah 10 abad di bawah kontrol Tiongkok. Mereka mendapatkan otonomi secara lengkap satu abad kemudian.
Pada masa pemerintahan Dinasti Tran, Dai Viet mengalahkan tiga usaha invasi Mongol di bawah Dinasti Yuan. Tiga kali dengan pasukan yang sangat besar juga dengan persipan yang hati-hati untuk serangan mereka, tetapi tiga kali berturut-turut orang-orang Mongol dikalahkan sama sekali oleh Dai Viet. Secara kebetulan, pertempuran terakhir dimana jendral Vietnam Tran Hung Dao mengalahkan kebanyakan militer Mongol diadakan lagi di Sungai Bach Dang seperti nenek moyangnya kurang lebih 300 tahun yang lalu. Feudalisme di Vietnam mencapai titik puncaknya saat Dinasti Le pada abad ke 15, khususnya selama masa pemerintahan Kaisar Le Thanh Tong. Antara abad ke 11 dan 15, Vietnam memperluas wilayahnya ke arah Sealatan dalam proses yang disebut Nam Tien (Perluasan ke Selatan). Mereka akhirnya menaklukan kerajaan Champa dan banyak kekaisaran Khmer.

Masa Kolonialisme Prancis

Kemerdekaan Vietnam berakhir pada pertengahan abad 19 AD (Setelah Masehi), ketika Vietnam dikolonialisasikan oleh Kerajaan Perancis. Pemerintahan Perancis menanamkan perubahan signifikan dalam bidang politik dan kebudayaan pada masyarakat Vietnam. Sistem pendidikan modern gaya Barat dikembangkan dan agama Kristen diperkenalkan kepada masyarakat Vietnam.

Pengembangan ekonomi perkebunan untuk mempromosikan ekspor tembakau, nila (indigo), teh dan kopi, Perancis mengabaikan permintaan akan pemerintahan sendiri (self-government) dan hak-hak sipil yang terus meningkat. Sebuah pergerakan politik nasionalis dengan cepat muncul, dan pemimpin muda Ho Chi Minh memimpin permintaan akan kemerdekaan kepada League of Nations (Liga Bangsa-Bangsa). Tetapi, Perancis memelihara dominasi kontrol terhadap koloni-koloninya hingga Perang Dunia II, ketika perang Jepang di Pasifik memicu penyerbuan ke Indochina. Sumber daya alam Vietnam dieksploitasi untuk kepentingan kampanye militer Jepang ke Burma, Semenanjung Malay dan India. Pada tahun terkahir perang, pemberontakan nasionalis berpasukan muncul di bawah Ho Chi Minh, melakukan kemerdekaan dan komunisme.

Menyusul kekalahan Jepang, pasukan nasionalis melawan pasukan kolonial Perancis pada Perang Indochina Pertama yang dimulai pada tahun 1945 hingga 1954. Perancis mengalami kekalahan besar pada Pertempuran Dien Bien Phu dan dalam waktu singkat setelah itu ditarik dari Vietnam. Negara-negara yang berperang dalam Perang Vietnam membagi Vietnam pada 17th parallel menjadi Vietnam Utara dan Vietnam Selatan sesuai Perjanjian Geneva (Geneva Accords).

Daftar Pustaka
D.G.E Hall, Sejarah Asia Tenggara, Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementrian Pelajaran Malaysia, 1981.
Soedharmono, Sejarah Asia Tenggara Modern, Yogyakarta: Pau-studi Sosial Universutas Gajah Mada.

Senin, 30 Maret 2009

Kerajaan Angkor

AWAL BERDIRINYA KERAJAAN ANGKOR
A. ASAL MULA KERAJAAN ANGKOR

Karena tidak ada peninggalan tertulis, maka diperkirakan Angkor lahir dari dalam lingkungan Khmer sendiri, bukan karena Tchen-la diduduki secara militer. Dari sudutsejarah, faktor berdirinya Angkor diketahui berasal dari luar yaitu pengaruh dari Nusantara.
1. Sriwijaya dan Dinasti Sailendra
Dengan Sriwijaya memiliki hegemoni perdagangan seperti Fu-nan dan dapat menggantikannya dan berkat hal itu, dapat menguasai laut-laut selatan, mungkin karena hal tersebut Tchen-la terpaksa meninggalkan kekuasaan atas laut. Mulai perempat kedua abad-8 Masehi kekuasaan beralih ke Jawa Tengah dimana berkembang dinasti Syailendra yang kuat.
Raja-raja Sailendra menganggap dirinya keturunan langsung raja-raja Fu-nan, yang berlindung di Jawa setelah negeri mereka ditaklukkan oleh Tchen-la. Mereka mendapat julukan “Raja Gunung” dan menggunakan gelar Maharaja, karena menganggap diri sebagai penakluk dunia. Mereka menjatuhkan salah seorang raja terakhir dari kerajaan Tchen-la yang tengah memudar. Di negari itu mereka memiliki semacam kekuasaan, karena diakui oleh orang Khmer sendiri pada waktu pendirian Angkor.
2. Ekspansi Peradaban Jawa
Cemerlangnya kesenian Buddha zaman sailendra, hal itu mencerminkan perkembangan agama Budha Mahayana yang dimulai pada zaman dinasti Pala di India, dan disebarkan oleh orang Jawa dan Sumatera. Kesenian itu muncul di Semenanjung Malaya dalam bentuk arca gaya Sriwijaya. Menjelang pertengahan abad ke-8 M, ada dua torso Awalokiteswara yang luar biasa bagusnya yang ditemukan di Chaiya. Karya-karya ini, walaupun menunjukkan pengaruh kesenian Jawa, memperlihatkan juga pengaruh kesenian pala yang jelas sekali. Kemungkinan besar patung-patung ini dikenal oleh seniman-seniman Angkor yang pertama. Ritus kerajaan sailendra dan unsur-unsur Hindu tradisional yang tersembunyi di Jawa Timur, gelar “Raja Gunung”, pemujaan raja-raja yang telah meninggal dan pemujaan kepada lingga sebagai symbol kekuasaan, semua itu merupakan salah satu asal-usul dari institusi-institusi kerajaan Angkor.
B. RAJA MASA AWAL KERAJAAN ANGKOR
1. JAYAVARMAN II

Pengaruh secara langsung dialami oleh Jayavarman II yang pernah hidup di jawa. Raja itu mempunyai hubungan keluarga agak jauh dengan dinasti-dinasti Kamboja yang terdahulu. Ia tinggal di istana dinasti Sailendra, ia pulang ke kamboja menjelang tahun 790 M.
Raja baru itu mulai mempersatukan wilayah Tchen-la yang terpecah-pecah. Tahapan penaklukannya mengambil wujud sebanyak ibu kota yang didirikannya: mula-mula Indrapura, disebelah timur Kompong Cham lalu menuju propinsi-propinsi sebelah utara danau-dana, yang kelak akan menjadi pusat kekuasaannya. Pada tahun 802 M, ia membangun Mahendraparvata, di Phnom Ku-len, sekitar 30 km sebelah timir laut Angkor.
Tempat itu dipilih dengan pertimbangan khusus. Pada dasarnya wilayah itu tidak layak huni, dan dengan cepat akan ditinggalkan, hal ini bersifat simbolis agar Ia menjadi “Raja Gunung” dan penguasa universal, Jayawarman II telah memilih begitu saja sebuah gunung yang mirip Gunung Meru, tempat bersemayam para dewa disekitar Indra, raja mereka. Secara khusus ia mendatangkan seorang pendeta brahmana untuk membacakan teks-teks suci dan membangun lingga dewa maha mulia. Lingga tersebut, merupakan sumber kekuasaan dan tempat tinggal jiwa sang raja, kelak menjadi lambang kerajaan Khmer. Dengan tindakannya tersebut menjadikan kambuja tidak lagi bergantung pada Jawa dan tinggal hanya seorang penguasa yang universal. Setelah itu Jayavarman II tetap di Roluos dan meninggal di situ pada tahun 850 M. putranya Jayavarman III menggantikannya dan menetap disitu sampai tahun 877 M.
Ternyata bahwa Jayavarman II benar-benar pendiri kekuasaan Angkor, dan bukan hanya dari segi politik saja, tetapi juga dari segi Keagamaan. Pemerintahan Jayavarman II yang diperkuat oleh pemerintahan anaknya, telah mengubah sama sekali jalannya evolusi Kerajaan Khmer. Negeri itu menyatu lagi di bawah kekuasaan tunggal, yang kokoh, dan tak tertandingi.
2. INDRAVARMAN
Pengganti kedua pendiri Angkor Indravarman (877-889 M) berjasa membina dasar yang kokoh untuk kekuasaan Ankor, baik dalam bidang politik maupun sosial dan ekonomi. Otoritasnya diakui sampai ke Cochin-Cina, sampai ke U-Bon di Siam, bahkan mungkin ke Champa. Selaku penganut ajaran Siwa yang kuat, ia berusaha mengembangkan pemujaan kepada raja yang telah meninggal, yang dimulai oleh Jayawarman II, yang mungkin atas pengaruh Jawa.
3. YASOVARMAN
Yasovarman, putra Indravarman menggantikannya pada tahun 889M. Dari ibunya, ia adalah keturunan keluarga kerajaan Fu-nan yang palin tua. Gurunya seorang Brahmana, anggota keluarga pendeta yang ditugasi Jayavarman II untuk mengurus pemujaan lingga kerajaan. Sebagai putra Indravarman, dan pewaris raja-raja universal Fu-nan,serta pengikut gagasan-gagasan Jayavarman II, dalam dirinya terkumpul semua kelebihan-kelebihan yang telah membawa kepada kelahiran Angkor.

PERKEMBANGAN KERAJAAN ANGKOR
A. HEGEMONI KHMER
1. KOH KER

Harshavarman I, saudara kandung Yasovarman, menggantikannya pada tahun 900 M dan memerintah sampai sekitar tahun 921 M. Sejak tahun 921 M, pamannya Jayavarman IV, memberontak dan membangun sebuah ibukota baru di Chok Gargyar sekarang Koh Ker sekitar 70 km disebelah timur laut Angkor.
Seperti para pendahulunya, Jayavarman IV adalah seorang pengagum Siwa. Di ibu kotanya yang baru ia membangun sebuah lingga suci, suatu pengulangan tindakan Jayavarman II yang membangun Angkor, mungkin dengan tujuan sama yakni merayakan keberhasilannya merebut kekeuasaan. Ia wafat pada tahun 941 M dan putranya tetap memerintah di Koh Ker samapi tahu 941 M.
2. KEMBALI KE ANGKOR
Rajendravarman (944-968 M), kemenakan si perampas kuasa dan juga Yasovarman, kembali ke kota itu begitu ia naik tahta. Kepulangan itu lebih bermakna lagi karena raja baru itu, menurut garis keturunan ibu, adalah pangeran penguasa di pusat bekas Tchen-la itu. Dengan pilihannya itu menandai putusnya hubungan dengan tanah asal orang kambuja dan pemindahan secara permanen ke dataran rendah orang-orang khmer beserta penguasa atas seluruh wilayah selatan Indocina. Untuk menebus kepergiannya, menurut tradisi dari zaman Indravarman, ketika baru saja tiba kembali di Angkor, rajendravarman mempersembahkan Candi Mebon (tahun 974-952 M) kepada nenek moyang keluarga kerajaan.
Dalam bidang politik, rajendravarman memperluas kekeuasaannya samapi ke Champa dan pada tahun 945-956 M, pasukannya mengobrak-abrik Po Nagar di Nha-trang. Putranya Jayavarman V menggantikannya pada tahun 968 M dan memerintah sampai 1001 M. Ia melanjutkan politik ayahnya terutama memperkokoh kekuasaan Khmer atas wilayah Champa.
3. DINASTI SURYA (kebesaran surya)
Tahun-tahun pertamaabad ke-11 M, sebuah dinasti baru merebut kekuasaan. Suryavarman I, keturunan “Bangsa Surya” dari kambuja, tampaknya perampas kekuasaanyang menaklukkan Angkor dengan kekuatan senjata. Setelah mengalahkan kedua pengganti Jayavarman V yang masa pemerintahannya tidak lama, ia menetap di ibu kota menjelang tahun 1011 M.
Suryavarman I memiliki sifat-sifat Khmer yang sama seperti para pendahulunya. Satu-satunya perubahan yang berarti dalam masa pemerintahannya ialah pembukaan pintu selebar-lebarnya bagi agama Buddha. Secara pribadi raja beragama Siwa dan melanjutkan kultus raja yang sudah diterapkan raja-raja pendahulunya. Suryavarman I memerintah sampai tahun 1050 M. Untuk kerajaan Khmer ia telah mencaplok seluruh wilayah selatan Siam, dari Lopburu samapi Ligor, dan mungkin sebagian besar Laos selatan, mungkin meluas sampai ke Luang Prabang.
Putranya, Udayadityavarman II, menggantikanya dan hidup sampai tahun 1066 M. Walaupun masa pemerintahannya sangat pendek, dan selalu dirusuhkan oleh pemberontak-pemberontak di semua propinsi kerajaannya yang luas, ia masih memperluas kekuasaannya dan mungkin sempat mengalami puncak kekuasaan tertinggi yang pernah di capai oleh seorang raja Khmer.
Udayadityavarman II adlah penganut agama Siwayang melaksanakan ibadah secaraa ketat, walaupun ia condong memuja wisnu. Bahkan pada masa pemerintahannya ditandai sejenis reaksi anti agama Buddha, namun tidak menghapuskan kepercayaan yang terus-menerus berkembeng di Kamboja sejak abad ke-11 M.
Adik bungsunya menggantikannya pada tahun 1066 M dan memerintah di bawah nama Harshavarman II, samapai menjelang tahun 1080 M. Ia terpaksa menghadapi serangan orang-orang Chamyang telah memerdekan diri dan bahkan berhasil membakar ibi kota kuno Sambor Prei Kuk, setelah mengumpulkan harta rampasan yang menguntungkan. Di bawah pemerintahannya, kekuasaan dinasti Surya menurun dengan cepat. Setelah memeribntah selama kurang dari satu abad, dinasti tersebut harus menyerah ke dinasti yang baru.
B. INDOCINA DALAM BAYANGAN ANGKOR
1. CHAMPA

Menjelang akhir abad ke-9 M, sebuah dinasti baru memerintah di Champa, dengan ibu kotanya Indrapura, yang sekarang bernama Quang-Nam. Pendirinya adalah Indravarman II (875-sebelum tahun 898 M), penganut agama Buddha yang saleh. Di bawah pemerintahannya dan para penggantinya, setelah mengalami peperangan pada abad sebelumnya, terjalin hubungan damai dengan nusantara.
Raja Indravarman III (menjelang tahun 918-960 M) terpaksa mengusirserangan-serangan Khmer dan mungkin untuk menghadapi bahaya itu, ia sangat tekun mengirim utuysan-utusan ke Cina. Namun pengaruh Angkor cukup dominan di bawah pemerintahannya. Sementara itu bahaya yang jauh lebih besar mulai menekan Campa. Setelah menjadi merdeka, Annam mengambil alih politik ekspansi dan melirik dataran-dataran rendah subur dan kota-kota Champa yang makmur. Sejak akhir abad ke-10 M mulailah perang fatal dan sulit didamaikan antara kedua kekuatan, karena dari segi kelangsungan hidup negeri itulah yang dipertaruhkan. Pada tahun 982 M orang Vietnam merebut Indrapura.
Orang Cham yang terpencar, berkumpul kembali di bawah seorangraja baru, Harivarman II (988-998 M) yang menempatkan ibukotanya lebih ke selatan, di Vijaya (Binh-dinh). Tekanan-tekanan Vietnam tidak akan pernah mengendur lagi , sebaliknya hamper setiap tahun terjadi serbu-serbuan, samapi ke Vijaya yang direbut pada tahun 1044 M dan dibumihanguskan pada tahun 1069 M. dengan demikian negeri Champa kehilangan wilayah bagian utara, karena pada waktu yang bersamaan ia harus menghadapi serangan-serangan orang baru Khmer.
Harivarman IV (1070-1080 M) untuyk sementara menghentikan penggerogotan yang tak henti-hentinya itu, ia juga berhasil dalam serangan kilat ke kamboja. Ia mengembalikan kedamaian serta kejayaannya kepada negerinya. Penganti-pengantinya: Jaya Indravarman II (1081-1113 M), Harivarman V (1113-1139 M), dan Jaya Indravarman III (1139-1145 M), boleh dikatakan memerintah dalam keadaan aman dan ketenangan, sebelum dinasti dan negeri itu jatuh pada tahun 1145 M ke tangan pasukan Khmer.
2. SIAM
Pada awal abad ke-11 M, delta siam menjadi bagian integral dari dunia Angkor, dapat dilihat dari raja Angkor terbesar Suryavarman I, asalnya Pangeran Ligor. Walaupun dipengaruhi kerajaan Khmer, bekas negeri Dvaravati itu tidak meninggalkan ajaran Buddha, bahkan ia menjadipusat agama Buddha Hinayana yang paling ortodoks. Pada periode yang sama, orang Mon dan Pyu dari delta Irawadi dipersatukan oleh raja Anorata (1044-1077 M), raja inilah yang menjadikan seterusnya negerinya pemeluik agama Buddha. Dengan diperkuat oleh Birma yang juga telah memeluk agama itu dan melalui negeri itu oleh kontak berkelanjutan dengan Sri Lanka, doktrin tersebut perlahan-lahan menyebar ke timur. Dengan penaklukan itu, raja-raja Angkor yang berajaran Siwa mengintegrasikan ke dalam negerinya pusat agama yang meruntuhkan kekuasaan mereka, meskipun bukanlah sebagai penyebab langsung.
3. VIETNAM
Samapi abad ke-10 M, delta Tonkin tal lebih daripada sebuah jajahan Cina. Selama masa penjajahan yang berlangsung lebih dari seribu tahun, orang Vietnam menyerap kebudayaan penjajahnya, sehingga akan membekas untuk selama-lamanya.
Dengan memanfaatkan kemerosotan kekuasaan maharaja-maharaja dinasti Tang, sebuah dinasti setempat merebut kekuasaan pada tahun 938 M. Tentu saja Annam tetap mengakui wewenang yang hanya tinggal namanya saja dari Maharaja Cina, meminta dukungannya jika diperlukan dan tetap menggunakan aksara Cina, serta hokum dan kebudayaannya. Ketika itu orang-orang Vietnam mulai merasa sesak di delta mereka, karena hanya mampu menggarap dataran rendah, satu-satunya lahan yang diincar adalah yang terletak disebelah selatan yaitu Campa.
Dinasti-dinasti Vietnam Le awal (tahun 980-1009 M), lalu Ly (1010-1225 M), sedikit demi sedikit memperluas kekuasaan mereka, sampai menghancurkan Campa sama sekali. Namun perluasan kekuasaan sepanjang pesisr selatan yang dilakukannya dengan kekerasan hanya menghasilkan perkembangan jumlah penduduk dan bukannya kejayaaan suatu peradaban. Orang Vietnam mendapat kemenangan karena jumlah mereka. Walaupun mereka masih menggunakan bagab administrasi Cina, tetapi cukup kendur , bangsa Vietnam menjadi suatu kesatuan berkat geografinya daripada pikiran yang menyatukan. Bangsa ini terdiri dari elemen-elemen dasar identik yang bertdsampingan tetapi relatifberdiri sendiri, karena masing-masing berusaha bertahan hidup sendiri.
C. PUNCAK KEJAYAAN KERAJAAN ANGKOR
Penghancuran Angkor oleh orang Cham merupakan pukulan fatal pada tradisi Hindu, yang sampai waktu itu telah menyemarakan peradaban Khmer. Peristiwa itu sebenarnya mungkin dapat pula menandai akhir Kamboja itu sendiri. Bersamaan dengan itu peradaban yang dikembangkan dan mencapai kristalisasi di Angkor menemui jalan buntu. Ia tidak mampu lagi memperbarui diri yang dikembangkan sebanyak-banyaknya hanyalah tema-tema itu saja.
Hal ini diperparah lagi dengan majunya agama Buddha sepanjang abad ke-12 M, berdasarka jumlah patung Sang Bijaksana yang bertambah banyak. Fakta yang lebih bermakna lagi: seorang raja Angkor, Dharanindravarman II, secara resmi memeluk agama Buddha. Setelah itu kemenangan orang Cham dianggap sebagai bencana supra-natural, isyarat dari langit: akhir suatu tatanan yang begitu digembor-gemborkan, karena seolah-olah diciptakan oleh para dewa sendiri dan tak tergoyahkan.

1. JAYAVARMAN VII
Ini adalah tokoh yang menangguhkan pukulan nasib fatal dengan menempatkan negerinya di bawah bendera agama Buddha. Ia seorang tokoh yang memepesonakan, dan yang paling menonjol dalam sejarah Khmer. Jayavarman VII ini adalah raja yang paling sombong dan haus kemenangan diantara semua raja Khmer yang ditonjolkannya adalah tindakan-tindakannya.
Ia dalam naik tahta tidak langsung mengantikan ayahnya, hal ini ketika ayahnya wafat, ia sedang berperangdi Champa dan tidak sempat menuntut haknya.dia tidak berbuat apapun ketika Yasovarman II naik takhta bahkan ketika Angkor direbut oleh Tribhuvanadityavarman. Ia telah melewatkan semua periode tersebut dengan menyendiri di Preah Khan, Kompong Svay.
Sesudah menderita penyakit kusta, lalu sembuh berkat keajaiban. Ia lalu kembali ke panggung politik dan keagamaan. Ketika penyerbuan orang Cham lah yang mendorongnya bertindak. Setelah serentetan peperangan dahsyat, di antaranya pertempuran di danau-danau, ia mengusir kaum perusak Angkor itu dan pada tahun 1811 M ia naik takhta. Dalam usia lebih dari enam puluh tahun dan ibu kota hangus, ia membalas dendam dengan cara yang mengerikan. Ia menyerbu Champa, mencaplok Vijaya. Sebelumnya ia mendapat jaminan Annam akan netral. Tetapi begitu ia berhasil, pasukannyaditamabh dengan pasukan-pasukan dari Champa, Siam, Birma, menyerbu Annam. Di utara barat ia lebih memajukan lagi batas kerajaannya samapai ke Vientiane, sampai Birma, di selatan sampai Semenanjung Melayu.
Namun dibalik kesuksessannya dalam aspek beragamanya, kegiatan yang menggebu nyaris lupa daratan, padahal ia seorang penganut Buddha Mahayana. Di bawah panji agama Buddha yang agak konvesional Jayavarman sama sekali tidak meninggalkan kultus raja, dewa diatas bumi. Tampaknya ia sama sekali tidak mengubah ritus Hindhu yang mendasari kerajaan Angkor.

D. KEMUNDURAN DAN AKHIR KERAJAAN ANGKOR
Setelah Jayavarman VII, di Angkor tidak ada lagi raja yang patut dicatat. Ibu kota masih ada dan penampilannya tidak berubah. Teks-teks Cina, Tcheu Takuan, pengembara terkenal yang mengunjungi Kamboja pada tahun 1295 M masih menggambarkan sebagai kota terkaya, rajanya yang paling berkuasa di laut-laut selatan. Sampai tahun 1430, raja-raja Khmer tetap memerintah di Angkor.
Penyebab lainnya dalam bidang ekonomi kerajaan ini berada dalam keadaan bahaya. System hidrolis yang dimiliki Angkor perlu pemeliharaan dan perkembangan agar tidak dipenuhi lumpur dan macet. Dengan melemahnya kekuasaan raja maka semakin menuju kebangkrutan ekonomi karena hanya raja yang mampu mengelolo jaringan raksasa ini. Tak ayal lagi pertanian di Angkor semakinmenurun dan berakibat pada menurunnya jumlah penduduk. Selain itu wabah penyakit malaria ikut memperparah kejatuhan Angkor.
Kehilangan Angkor dipercepat oleh serbuan Thai yang bertubui-tubi dan merusak. Setelah kota-kota di Angkor dapat direbut oleh musuh-musuh mereka lalu di rampas kekayaannya dan dibakar. Maka orang Kamboja meninggalkan Angkor.

Jumat, 27 Maret 2009

Tampilnya Cory Sebagai Presiden Filipina

Sejak semula konstitusi 1973 sudah diliputi kontroversi, yaitu sejak diciptakannya Sidang Konstitusi 1971 – 1972. ratifikasi konstitusi baru yang dituduh berlangsung dengan cara yang melaggar UUD ini menyebabkan di kalangan oposisi banyak yang menilai kekuasaan Marcoz adalah tidah sah. Konstitusi 1973 juga dinilai mengesahkan aspek keotoriteran konstitusional yang paling tidak bias diterima.

Pada tanggal 23 April 1986, Corazo Aquino mengeluarkan Makhlumat No. 9 tahun 1986 yang mengatur pengangkatan dan segi – segi operasional dari suatu badan yang bertugas menyusun rancangan konstitusi baru. Selama itu urusan Negara ditangani pemerintahan sementara dengan landasan Konstitusi pembebasan, walaupun satu pihak memberikan kekuasaan penuh dan mutlak kepada presiden, tetapi di lain pihak mempertahankan Bill Of Right yang terdapat dalam konstitusi 1973, sebagai pengamanan dan perintang terhadap pelaksanaan kekuasaan secara dictatorial dan represif serta sebagai sumber kewenangan rakyat untuk menuntut pertanggungjawaban. Salah satu prioritas pembaharuan konstitusi adalah penerapan suatu mekanisme pergantian yang stabil, terinci dan dapat diandalkan sehingga tidak memberikan peluang bagi keragu – raguan. [1]

Pembaharuan konstitusi juga harus ditujukan pada kebutuhan akan suatu keseimbangan antara wewenang dan tanggung jawab dalam masa pasca Marcos. Tahap pertama adalah mengurangi kesumurangan kedudukan presiden. Hal itu berarti lebih dari sekedar melucuti kekuasaan presiden untuk mengeluarkan Dekrit. Penataan kembali kekuasaan di antara cabang – cabang pemerintahan di Filipina nampaknya besar kemungkinannya juga akan memberikan prioritas besar pada pemulihan kedudukan independent dari lembaga peradilan. Suatu lembaga peradilan yang independent juga diperlukan agar ada kemungkinan untuk menentukan dalam kondisi yang bagaimana kewenangan dapat diterapkan secara sah berdasarkan konstitusi yang mana pun juga pada masa yang akan datang.

Pemisahan yang lebih jelas antara bagian eksekutif dan legislative dalam pemerintahan juga akan bias mengakhiri ketidakjelasan system pemerintahan di Filipina, yang selama ini merupakan campuran antara system presindential dan perlementer. Presiden Aquino dan wakil presiden Laurel memulai masa jabatan pada bulan Februari 1986 dengan komitmen untuk memulihkan system checks and balances yang tercipta dengan di pisah – pisahkannya kedudukan dari berbagai kekuasaan.

Bangkitnya kembali partai politik pada tahun 1978 setelah tenggelam hamper enam tahun, memungkinkan kelompok – kelompok opposisi di Filipina untuk mempunyai pengaruh terhadap kehidupan politik. Partai – partai oposisi yang moderat bergabung dalam suatu front persatuan untuk ikut serta dalam pemilihan bulan Februari 1986 itu, tetapi itupun dengan susah payah. Akhirnya tercipta pasangan kerja sam Corazo Aquino – Laurel, meskipun itu baru bias tercapai setelah Kardinal Sin secara pribadi campur tangan. Corazo Aquino secara khas telah mengambil posisi yang mencakup sikap –sikap dari sebagian besar penasihatnya. Ia mengatakan bahwa rekonsiliasi nasional baginya merupakan prioritas yang paling utama. Ia juga mengatakan akan dengan energies menangani masalah – masalah ekonomi, social, dan politik yang telah menyebabkan kaum muda Filipina mengangkat senjata melawan Marcos.

Pencapaian yang dramatis Corazo Aquino menuju tangga kepresidenan pada akhir bulan Februari 1986 tidaklah menjamin kembalinya perdamaian dan kemakmuran bagi Negara Filipina, akan tetapi hal ini telah menandai awal dari suatu pengamatan segar bagi berbagai kondisi. Tugas atau pekerjaan penataan kembali adalah sangat berat. Berbagai lembaga pemerintahan yang secara sistematis telah disalah gunakan oleh rezim marcos agar mereka semua tergantung pada Marcos, yang secara menyeluruh nampaknya seperti tidak memiliki hak kekuasaan. Perekonomian nasional telah diperlemah oleh pengalokasian yang salah dari sumber – sumber selama bertahun – tahun, telah berada dalam kondisi depresi berat, meluasnya pengangguran serta pendapatan rata – rata telah turun kembali ke posisi yang terjadi pada decade sebelumnya. [2]

Media massa sangat penting peranannya bagi mobilisasi kekuatan rakyat. Pada awal pemerintahan Aquino, juga banyak dicurahkan perhatian terhadap peranan korps pengacara di dalam system politik yang telah mengalami penataan kembali. Walau begitu, tidak semua pengacara kehilangan semangat. Paling tidak beberapa diantara mereka pantang menyerah dalam upaya membela tahanan politik. Sementara yang lainnya mengabdikan diri pada upaya membela hak – hak golongan tidak mampu. Orang – orang seperti itu memang langka. Tetapi mereka ikut berperan menunjukan kepada sesame warga Filipina bahwa profesi pengacara belum begitu terjerumus sehingga tidak dapat di selamatkan lagi. Kedudukan pemerintahan Aquino tercipta berkat berbagai perkembangan. Tetapi ada dua unsure yang paling menentukan yaitu pribadi Corazo Aquino dan besarnya dukungan rakyat terhadapnya. Hal yang sangat penting adalah bahwa Corazo Aquino perlu mengembangkan cara – cara agar bisa melanjutkan komunikasi dengan basis dari pendukungnya. Disamping dukungan rakyat yang begitu luas, presiden Aquino juga memiliki modal lain, yaitu kepribadiannya sendiri.

Corazo Aquino telah mengawali jabatan kepresidenan dengan menerapkan barbagai langkah atau tindakan khusus untuk mengatasi masalah – masalah tersebut. Ia mengumumkan suatu pemerintahan yang revolusioner, membubarkan badan pembuat Undang – Undang yang di dominasi Marcos, mengganti orang –orang yang diangkat Marcos dalam sejumlah besar pos – pos atau jabatan eksekutif dan peradilan serta membentuk komisi atau panitia penyusun Undang – undang Dasar atau konstitusi baru yang memberi atau menjamin persetujusn secara menyeluruh di dalam suatu referendum nasional.[3]

Tetap bertahannya Corazo Aquino sebagai presiden maha pentingnya artinya bagi mas depan yang demokratis. Ini tidak saja karena komitmennya pada pemulihan kehidupan demokratis dengan jalan damai, tetapi juga dengan mengingat tingginya tingkat kredibilitas yang dimilikinya, serta besarnya kepercayaan masyarakat padanya.



[1]Bresnan, John.1988. Krisi Filipina.Jakarta : Gramedia, hlm.237

[2] Bresnan, John.1988. Krisi Filipina.Jakarta : Gramedia, hlm.338

[3] Bresnan, John.1988. Krisi Filipina.Jakarta : Gramedia, hlm.338

revolusi thailand 1932

A. Sebab-sebab Pembentukan Monarki Konstitusi di Thailand

Pada masa kepemimpinan Raja Vajiravudh pada tahun 1910 mengalami gejolak pada masa kepemimipinannya. Raja Vajiravudh adalahpengganti dari Raja Chulanglongkor. Dalam kepemimpinannya Raja Vajiravudh melakukan kesalahan besar yakni tidak melanjutkan usaha modernisasi yang telah dirintis oleh ayahnya. Dalam pengambilan keputusan Raja Vajiravudh tidak meminta nasihat kepada anggota keluarganya yang penting sebagaimana yang telah dilakukan oleh ayahnya. Dia juga mengangkat orang-orang yang disukainya untuk duduk di posisi penting sehingga menimbulkan kecemburuan. Dia mempunyai tujuan untuk membangkitkan kembali absolutisme yang sebenarnya sudah dikurangi pada kepemimpinan Raja Mongkut. Pada tahun 1921 ia memerintahkan dan memberlakukan wajib belajar pada tingkat sekolah dasar. Dia juga mendirikan Universitas Chulalongkorn serta mendirikan sekolah Vajiravudh di Bangkok yang murid-muridnya terdiri dari anak-anak laki-laki yang diasramakan. Dalam bidang sosial ekonomi Raja Vajiravudh tahun 1916 ia memerintahkan rakyatnya untuk memakai nama keluarganya, lalu kepada kaum wanita juga diperintahkan untuk menggunakan model rambut orang eropa serta rok sebagai ganti pakaian model Thailand asli.

Selama masa pemerintahan Raja Vajiravudh melakukan tindakan yang kontradiktif dimana ia membiarkan berlangsungnya praktek pemborosan anggaran dana, korupsi, usaha absolutism kerajaan, dan peniadaan dewan penasehat. Pada tahun 1925 Raja Vajiravudh meninggal dunia dan digantikan oleh adiknya yaitu Pangeran Prajadhipok. Prajadhipokmengambil kebijakan untuk melakukan pengurangan pegawai yang pada awalnya 3000 menjadi 300 orang. Selain itu pegawai dan militer juga dibebani dengan adanya pemotongan gaji. Kebijaikan itu ditambah dengan bertambahnya be cukai sebagai hasil perjanjian dagang dan kemakmuran perdagangan luar negeri, memungkinkan mengimbangi budged dan juga menaikkan pajak. Ia mendirikan kembali Dewan Penasehat yang terdiri dari lima pangeran penting sebagi badan penasehat dan ia mendirikan kabinet menteri-menteri. Tahun 1927 ia membentuk komite yang beranggotakan 40 orang untuk melaporkan padanya setiap masalah-masalah yang diajukan.

Kebijakan yang telah diambil membawa hasil. Besarnya pemasukan yang didapat dari sektor bea cukai membuat pemasukannegara bertambah dan membuat pihak bendahara Negara mampu mengimbangi budget tanpa perlu bantuan hutang dari Negara lain atau luar negeri. Tetapi disatu sisitindakan Prajadhipok dengan kebijkan pemotongan gaji dan pengurangan pegawai besar-besaran membuat kecewa dan merasa terpukul terutama perwira muda karena diberlakukannya kebijaksanaan itu. Di bidang perdagangan sebagian besar masih dipegang oleh orang asing terutama orang Cina. Dengan demikian keadaan ekonomi tetap memprihatinkan dan jumlah penganggur semakin meningkat.

B. Reformasi 1932 di Thailand

Pada bulan Oktober tahun 1931 terjadi perdebatan antar dewan tertinggi di Thailand, perdebatan itu melibatkan Menteri Urusan Perang, Pangeran Bavaradev, dan menteri perdagangan serta Pangeran Purachatra. Perdebatan itu mengenai masalah ekonomi. Dan hal itu berakibat krisis piolitik dalam negeri yang mengurangi kepercayaan rakyat terhadap raja atau pemerintah.

Masuknya ilmu pemerintahan barat, terutama mengenai ide-ide baru yang telah tercium oleh pemuda-pemuda Thailand merupakan factor yang mempercepat timbulnya revolusi. Orang-orang Thailand baik dari kelompok intelektual maupun opsir-opsir militer yang revolusioner dan berpendidikan barat itu bercita-cita untuk menghapuskan Monarkhi absolute menjadi monarki konstitusi.

Golongan intelektual dipimpin oleh Pridi Banomnyong. Sedangkan dari kelompok militer dipimpin oleh Phibun Songgram. Kedua orang inilah yang kemudian ikut andil dalam mencapai demokratisasi di Thailand. Dengan demikian lalu timbul sebuah elite baru yang menuntut perubahan dan kekuasaan politik yang lebih menempatkan dirinya sebagai oposisi yang melawan monarki absolute. Ketidakpuasan di kalangan kaum revolusioner yang berpendidikan barat, elite birokrasi dalam pemerintahan dan kepemimpinan angkatan bersenjata yang lebih muda meningkat. Sehingga dengan dukungan militer Pridi meolancarkan revolusi tak berdarah pada tanggal 24 Juni 1932.

Revolusi tahun 1932 berlangsung dengan lancer dan berhasil memaksa raja menerima konstitusi yang diajukan oleh Partai Rakyat (partai Pridi Banomyong dan kawan-kawannya). Adapun isi konsitusi yang dimaksud adalah menghilangkan hak-hak pregorative Raja, kecuali hak memberi pengampunan. Disamping itu adalah ditetapkan bahwa kedaulatan penuh ada di tangan rakyat, pemerintahan disusun dengan lembaga-lembaga kenegaraan yang meliputi Raja, kabinet dan parlemen. Selain itu isi pokok dari konstitusi 1932 adalah sebagi berikut

1. Raja mempunyai hak untuk mengangkat separo anggota parlemen yang berjumlah 156 orang dan separonya lagi dipilih oleh rakyat.

2. Kabinet yang dipimpin oleh seorang perdana menteri dipilih oleh parlemen dan bertanggung jawab kepadanya, yang kemudian di angkat secara resmi oleh raja.

3. Raja berhak membubarkan parlemen dan untuk itu ia harus melaksanakan pemilu, paling lambat tiga bulan sesudahnya.

4. Raja dapat memveto keputusan parlemen dan berhak menyatakan Negara dalam keadaan darurat.

Sebagai akibat revolusi 1932 itu maka kekuasaan itu dihapus dan dibentuk UUD dan parlemen. Revolusi yang dilancarkan oleh golongan revolusioner di Thailand tersebut memang dapat menumbangkan kekuasaan monarki absolute. Phyamanomakon menjadi perdana menteri. Pada masa pemerintahannya Pridi banomyong mengajukan rencana ekonomi yang berisi tentang nasionalisasi semua tanah, maka Perdana Menteri Manomakon sebagai komunis dan membuang Pridi keluar negeri. Perdana Menteri Manomakon juga membersihkan angkatan bersenjata dari unsure-unsur radikal. Dan tiba-tiba pada tahun 1933 terjadi kudeta yang dilakukan oleh PhyaBahol dan berhasil menumbangkan Phya Manomakon. Setelah Phahon menjadi pemimpin antara tahun 1933-1938 ia dianggap tidak demokratis dan dinilai merupakan kekuasaan yang otoriter yang baru.

Tahun 1938 kabinet jatuh dan digantikan Phibun Songhram. Pada masa pemerintahanPhibun Songhram dan Pridi sebagai menteri keuangannya, tindakan yang dilakukan pemerintah lebih bersifat nasionalis, seperti berhasil membuka kesempatan kerja, memberbaiki pemerintah. Setelah PD II Phibun menjadi moderat dan undang-undang anti komunis pada tahun 1974 ia hapuskan. Dengan cara itu Thailand mendapat dukungan dari Uni Soviet dan menjadi anggota PBB pada tahun 1948. Setelah berbenturan dengan Negara-negara besar maupun PBB maka cita-cita menjadi Negara yang demokratis menjadi kenyataan.