A. Ciri-Ciri Historiografi Tradisional di Asia Tenggara
Spereti yang telah dijelaskan pada latar belakang, bahwa historiografi tradisional Asia Tenggara sebelum abad ke-XX masih dipengaruhi oleh agama. Berdasarkan agama itulah maka historiografi di Indonesia dapat dibedakan kedalam empat wilayah yang meiliki agama dan pengalaman baca tulis yang berbeda. Penggolongan ini digunakan untuk menjelaskan secara jelas mengani historiografi di Indonesia. Adapun keempat wiilayah Asia Tenggara tersebut adalah sebagai berikut;
1. Pengaruh Agama Theravada di Muangthai dan Kamboja
Bangsa Mon adalah bangsa yang banyak mendiami daerah daerah-daerah di Burma. Negara Burma yang berbatasan dengan India, membuat negara ini mayoritas penganut agama Budha yang juga berasal dari India. Agama Budha yang dianut oleh para bangsa Mon berbeda dengan yang ada di India. Penduduk Mon banyak menganut agam Budha Theravada Sinhala yang masuk ke Burma pada tahun 1190 yang menyebar pada abad ke-13 dari bangsa Mon dna Burma ke bangsa Shan, Thai Laos dan Kamboja. Threvada yang telah berkembang bangsa-bangsa diluar bangsa Mon ini tidak diterima utuh oleh masyarakat setempat, namun terjadi alkulturasi dengan agama-agama masyarakat pribumi. Berkembangnya agama Budha Theravada ini semakin menggusur keberadaan Budha Mahayana dan Hindu yang sebelumnya banyak berkembang di Asia tenggara. Namun demikian agama Budha Mahayana dan hindu masih dianut oleh kaum elit di Asia Tenggara.
Setelah masuknya agama Theravada Sinhala membuat agama Budha Hinayyana yang sebelumnya dinut Kerajaan Pagan (pemerinthan Anawratalah) ulai tergantikan. Tepatnya pada masa pemerintahan raja naraphatisitu banyak kebudayaan dan karya sastra yang dibuat didasarkan pada ajaran agama Theravada. Misalnya pada abad ke-13 bangsa Mon menyusun sebuah kronik (Rajawan dan berbagai bentuk Genelogis) yang menetapkan suatu tradisi penggabungan data-data mengenai dinasti, anekdot mengenai raja-raja, serta berbagai mitos dan legenda yang memberikan arti pada setiap pemerintahan. Tradisi ini semakin diperkuat denagn pemasukan ksadaran kronologi yang lebih teliti dalam komposisi tulisan yang dibuat oleh bangsa Mon.
Salah satu kronik yang dibuat oleh orang-orang Burma adalah Yazawin (Kronik Burma) yang berasal dari abad ke-18 dan abad ke-19 yang merupakan:
a. Tulisan asli Burma dengan animisme lokal dan konsep mengenai raja serta kosmologi Birma sendiri
b. Karya ini disusun oleh para biarawan serta para brahmana terpelajar.
c. Mengandung bahan-bahan berharga bagi tulisan-tulisan pertama dari orang-orang Eropa mengenai Burma.
Tradisi seperti ii juga berkembang di Muangthai atau Thailand. Tidak jauh berbeda perkembangan tradisi ini juga dibawa oleh para biarawan dan menteri yang terpelajar yang berasal dari Sri Langka, yang dimungkinkan berasal dari bangsa yang berbahasa Mon-Khmer yang tinggal dilembah sungai Menam. Namun sebagian besar kronik ini musnah ketika Ayuthia diserbu Burma pada tahun 1767 yang dipimpin oleh Raja Hsin Byusin. Yang mana Ayuthia kalah dalam ppeprangan ini. Dari semua kronik yang masih tercatat adalah Pongsawadan yang disusun pada tahun 1680 dan meliputi antara tahun 1350-1605. bentuk kronik in kebali dikembangkan pada akhir abad ke-18. kebanyakan kronik di Muangthai, Kamboja, Burma dan negara-negara Malaysia seperti onghala dan Saiburi dibentuk dalam bentuk kronik tersebut.
2. Pengaruh Islam di Indonesia, Malaysia dan Filipina Selatan
Hampir seluruh wilayah di Asia Tenggara mendapat pengaruh agama Hindu dan Budha yang berasal dari India. Namun dalam perkembangannya wilayah Indoneisa, Malaysia dan fillipina bagian selatan mendapat pengaruh dari agama Islam, yang kemudian membuat agama Hindu dan Budha kehilangan landasannya di tga daerah tersebut. Dalam awal penulisan sejarah tradisional di Indonesia agama Hindu dan budha memeganga peranan yang cukup penting.
Orang-orang Jawa bnayak meninggalakan monumen dan inskripsi-inskripsi yang bercorak Hindu-Budha. Tidak hanya berupa monumen, sajak-sajak epik seperti Negarakertagama, Pararaton, Babad tanah Jawi (abad 14-17), pemujaan pujangga-pujangga keraton terhadap raja, penyusunan geneologi, serta penyempurnaan sajak-sajak. Orang Jawa dan melayu memiliki kesadaran kontinuitas, keinginan untuk meneruskan kekuasaan yang sah dan kedaulatan tokoh dimasa lampau dengan asal-usul sejarah mereka., selalu dipertahankan hingga berabad-abad. Hal tersebut menyebabkan ketidakadanya ketep[atan kronologis.
Tulisan-tulisan dalam bahasa melayu lebih berkembang sebagai sejarah, misalnya saja Kitab Sejarah Melayu yang berisi tentang Kerjaan Johor dan Riaulingga. Selain itu juga kronik bersajak seperti Sha’ir Perang Mekasar. Tulisan-tulisan dalam bahasa melayu ini merupakan uraian mengenai dan tempat hidup, namun belum terdapat kronologis, walaupun deikian lukisan mengenai hubungan antara tokoh lebih tepat. Tidak banyak tulisan yang berbau mitos dan lebih banyakl terkandung unsur nilai-nilai tentang kepatuhandan kejujuran. Selain digunakan untuk mendidik juga digunakan untuk menghibur. Contoh yang menonjol dalam sejarah melayu adalah tentang sejarah sosial” Misa Melayu, Hikayat Abdullah dan Tuhfal-ul Nafls (abad 18-19).
3. Pengaruh Agam dan Budaya Cina di Vietnam
Vietnam bagian Utara adalah salah satu daerah jajahan atau fasal Cina. Selama pendudukan Cina di Vietnam Utara banyak pengaruh yang diberikan Cina terhadap Vietnam. Seperti daerah jajahannya Cina lainnya (Korea dan Jepang), Cina juga menanamkan kebudayaan yang mereka miliki kedaerah fasal mereka. Penjajahan Cina itu membuat berhasil menentukan sifat dan historiografi di Vietnam Utara. Karya-karya tradisional seperti Cina masih ada sampai abad ke 19 dan ke 20.
Setelah Vietnam melepaskan diri dari penguasaan Cina, Vietnam masih memegang peradapan Cina yang telah ditanamkan sebelumnya. Agama Theravada yang berhasil menaklukkan sebagian Indocina atau Asia Tenggara Kontinental tidak serta-merta membuat keyakinan bangsa Vietnam beralih agama. Sehingga Vietnam tidak terpengaruh dan tetap menganut agama Budha Mahayana dari alirn di Cina. Sehingga karya-karya yang dihasilkan di vietnam jauh berbeda dengan negara Indocina lainnya yang terpengaruh oleh agama Theravada.
4. Pengaruh Agama Kristen di Fllipana
Ketika mulai berkembangnya pelayaran samudra yang raai dilakukan oleh bangsa Barat, hal itu mendorong orang-orang Spanyol untuk melakukan perjalanan. Pada abad ke-16 spanyol berhasil sampai dan menduduki kawasan Fillipina. Spanyol yang masuk ke Fillipina membawa asas 3G (Gold, Glory dan Gospel). Penyebaran agama katolik di fillipina mebuat masuk pula bentuk historiografi tradisional katolik Roma yang berkembang berkembang sejajar dengan kronil berbahasa Melayu di kepulauan Sulu. Tradisi ini masih berkembang sampai abad ke-19 dan sisanya masih ada hingga sekarang.
B. Ciri-ciri Historiografi Tradisional
Sejarah di Asia Tenggara sering dikatakan tidak memiliki keutuhan tema hingga masuknya peradaban industri modern, yakni selama seratus tahun terakhir. Ada tradisi yang memiliki asal-usul yang sama, namun berkembang menjadi tradisi yang khas di masing-masing wilayah sesuai dengan kebudayaan masing-masing wilayah. Hal itu menunjukkan bahwa terdapat ciri-ciri asli yang khusus dari masing-asing bangsa. Ciri-ciri yang memiliki kesamaan antara negara di Asia Tenggara antara lain:
1. karya-karya yang dihasilkan baik di bagian geneologi namun terdapat kelemahan dalam hal kronologi dan detil-detil biografis.
2. tulisan pada masa ini lebih ditekankan pada gaya bercerita, bahan-bahan anekdot, dan pengguanaan agama sebagai alat pengajaran sejarah.
3. bila karya-karya tersebut bersifat sekuler maka nampak adanya persamaan da;lam hal perhatian terhadap kingship (konsep mengenai Raja), serta tekanan diletakkan pada kontibuitas dan loyalitas yang ortodoks.
4. Pertimbangan-pertimbangan astorlogis dan kosmologis cenderung untuk menyampaikan menegenai sebab-akibat dan ide kemajuan (progress).
Walaupun terletak disatu kawasan yang sama, namun terdapat ula perbedaan-perbedaan dalam historiografi di Asia tenggara. Adapun perbedaan itu antara lain adalah sebagai berikut:
1. persaingan nasional memperngaruhi karya mengenai bangsa-bangsa yang bertetangga, misalnya karya-karya orang Burma dan Muangthai.
2. perbedaaan bahasa di Asia tenggara sebelum terbentuknya bahasa Pali banyak karya-karya yang tidak dapat dibaca oleh orang dari luar bangsa tersebut.
3. kebijakan-kebijakanRaja mengenai penulisan sejarah yang beragam. Misalnya, karya-karya islam dan Melayu diedarkan dikalangan umum, sedangkan karya-krya yang dihasilkan orang-orang Muangthai dan Burma serta Vietnam hanya digunakan untuk kepentingan pihak resmi.
4. agama telah memilsahkan agama para sejarawan Indo-islam dari konteks sosio-ekonomi agama Hindu. Agama juga memisahkan orang-orang Muangthai dari Historiografi Asia Timur di Vietnam. Agama juga memisahkan antara Melayu-jawa dari orang-orang Muangthai, Burma disatu pihak dan orang Fillipina di pihak lain.
C. Historiografi Asia Tenggara Modern
Historiografi Modern tumbuh dan telah berkembang di Eropa jauh sebelum di perkembangan historiografi di Asia Tenggara. Historiografi modern baru berkembang di Asia Tenggara pada pertenaghan abad ke-19, setelah ilmu pengetahuan dan kebudayaan barat mulai masuk di kawasan Asia Tenggara. Karena pendudukan orang eropa yang tidak menyeluruh sehngga tidak memungkinkan penyebaran ilmu pengetahuan secara menyeluruh, sehingga tidak memungkinkan untuk mengembangkan historiografi modern. Pada abad ke-16 sampai ke-19 kebnyakkan hasil tulisan sejarah banyak ditulis oleh orang-orang Eropa. Penulisan sejarah yang dilakukan oleh orang-orang Eropa belum dapat mempengaruhi bentuk historiografi di Asia Tenggara. Berikut adalah beberapa contoh historiografi modern di Asia tenggara:
1. Indonesia dan Malaysia
Pembentukkan Btavia Genootscap voor kunsten en Wetenshappen (Perhimpunan Batavia untuk seni dan Ilmu Pengetahuan) tahun 1778, buku karya William Marsden Hiatory of Sumatra (1783), serta buku karya Raffles History of Java (1817), sedikit sekali merangsang penulisan sejarah di Indonesia. Pada akhir abad ke -19 dengan dihidupkannya kembali Perhimpunan Batavia untuk seni dan Ilmu Pengetahuan, serta dibentuknya Cabang Straits dari masyarakat kerajaan Asia pada tahun 1878, mulailah dilakukan kegiatan ilmiah mulai berkembang di Indoneisa dan Malaysia. Walaupun demikian penulisan babad masih tetap ada.
2. Burma dan muangthai
Tidak hanya di Indonesia, orang-orang Eropa di Burma dan Muangthai juga menulis karya sejarah. Misalnya, Arthur Phrye (History of Burma, 1883), WAR Wood (A History of Siam, 1902) serta beberapa majalah Ilmiah seperti Juenal masyarakat Burma dan Jurnal masyarakat Muangthai. Para penulis dari Eropa it sangat bergantung pada penelitian setempat.
3. Vietnam
Sejarawan tradisional Vietnam banyak membantu sarjana-sarjana Perancis yang tergabung dalam Ecole Francais d’Etreme Orient (Sekolah perancis Mengenai timur Jauh), yang didirikan tahun 1900 dan bertujuan untuk engembangkan ilmu sosiologi yang sudah muali berkembang di Perancis pada saat itu. Karya-karya yang dibuat sarjana-sarjana Pernacis tersebut diterbitkan dalam sbuah buletin. Selain itu arsip-arsip kerajaan Hue masih menyimpan dokumen-dokumen secara tradisional samapai beberapa tahun sebelum pendudukan Perancis. Sehingga semakin mempermudah penelitian yang dilakukan oleh sarjana-sarjana asal Perancia.
4. Fillipina
Pada masa pendudukan Amerika, banyak sarjana Amerika yang mempelajari sejarah Filipina dari dokumen-dokumen kolonial dan dokumen-dokemen missi Spanyol. Salah satu karya yang penting adalah, karya E. H Blair dan J A Robertson (The Phillipine Island, 1493-1889) yang terdiri dari 55 jilid dan diterbitkan tahun 1903-1909.
Pada abad ke-19 dan sebagian abad ke-20 terdapat tiga bidang historiografi Indonesia yang berbeda-beda. Antara lain;
1. Sejarah Kuno adalah sejarah yang tidak atau kurang dikenal oleh masyarakat asli, biasanya ditulis oleh para fiolog, epigraf dan para Arkeolog. Salah satu contohnya adalah karya N.J Krom engenai sejarah kuno Indonesia.
2. Sejarah Koonial biasanya mencakup masalah perdagangan, perang, perjanjian-perjanjian, dan administrasi orang-orang eropa.
3. Sejarah Tengah atau periode tengah, sejarah yang berkisaran antara empat sampai sepuluh abad sebelum abad ke-19, yang merupakan penulisan sejarah penuduk asli, metode-metode modern dapat mulai digunakan, menentukan tanggal secara tepat dan malah mengintepretasikan kembali dari periode-periode ini.
Di Muangthain dan fillipina perkembangan historiografi agak sedikit berbeda. Di Muangthai d Universitas Chulalongkorn pada tahun 1917 mengajarkan mengenai sejarah kuno dan sejarah modern. Sedangkan di Fillipina pada tahun 1611 universitas seperti Santo Thomas tidak mengajarkan sejarah sekuler, tetapi sejak akhir abad ke-19 mulai banyak memperkenalkan metode-metode sejarah yang modern. Tahun 1908 orang-orang Amerika mendirikanuniversitas di Filipina dna mengajarkan sejarah modern.
Setelah berakhirnya Perang Dunia II dan bangsa-bangsa di Asia Tenggara merdeka, mereka mulai mengambil langkah-langkah baru dalam historiografi, antara laiin:
1. Diterbitkannya buku DGE Hall mengenai sejarah Asia tenggata tahun 1955 semakin menyadarkan bangsa-bangsa di Asia Tenggara perkembangan sejarah dari kuno hingga modern merupakan unit sejarah yang lengkap.
2. Hasil penelitian J.C. Van Leur merangsang timbulnya sejumlah karangan mengenai historiografi Indonesa yang dicetuskan dalam seminar nasional I tahun 1957.
3. Usaha membentuk pertemuan Internasional Association of Historians of Asia, yang melakukan kongres tiga atau empat tahun sekali.
D. Ciri-ciri Historiografi Modern Asia Tenggara
Di kawasan Asia Tenggara khususnya Indonesia, Burma, Malaysia dan filipina, historiografi modern sedang dikonfrontasikan dengan nasionalisme. Seperti terlihat dalam bentuk penulisan sejarah pasca proklamasi, kebanyakkan tulisan dibuat guna membangkitkan semangat nasional untuk melawan penjajahan Belanda. Untuk menunjukkan bahwa bangsa Belanda itu sebagia bangsa yang jahat dan selalu merugikan bangsa Indonesia. Sehingga penulisan sejarah pada masa ini banyak terdapat mengenai tokoh-tokoh besar, seperti Pangeran Diponegoro, dan lain sebagainya.
Pada sejarah modern di Asia Tenggara masih mengutamakan sejarah Nasional dibandingkan dengan sejarah ilmiah. Namun dalam perkembangannya sekarang ini para sejarawan sudah mulai banyak menggun akan metode-metode dalam penulisan sejarah.
DAFTAR PUSTAKA
Anggar Kaswani. 1998. Metodologi Sejarah dan Historiografi. Yogyakarta: Beta offset.
Danar Widiyanto. 2002. Perkembangan Historiografi: Tinjauan Di Berbagai Wilayah Dunia. Yogyakarta: UNY
D. G. E. Hall. 1968. Sejarah Asia Tenggara. Surabaya: Usaha Nasional.
Sartono Kartodirjo. 1982. Pemikiran dan perkembangan historiografi Indonesia. Jakarta: Gramedia.
. 1985. Ilmu Sejarah dan Historiografi:Arah dan Perspekti: Gramediaf Taufik Abdullah & Abdurrachman Suryomiharjo. Jakarta
Toynbee. Arnold. 2006. Sejarah Umat Manusia: Uraian Analitis, Kronologis, Naratf dan Komparatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
diambil dari:http://defie88.multiply.com/journal/item/2
Tampilkan postingan dengan label Historiografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Historiografi. Tampilkan semua postingan
Selasa, 14 Juni 2011
Rabu, 03 Juni 2009
HISTORIOGRAFI ASIA SELATAN
Perkembangan histiografi di Asia selatan dapat dibagi dalam dua periode yakni tradisional dan modern. Pada masa historiografi tradisional sumber-sumber kesusateraan masih sangat kental. Sedangkan dalam historiografi modern lebih mengarah ke India hal ini dikarenakan Indialah yang paling mengesankan dalam kuantitas atau kualitasnya.
A. Historiografi Tradisional
Historiografi Asia Selatan Tradisional dapat dibedakan menjadi dua yakni:
1. Sebelum masuknya agama Islam ke India
Agama veda merupakan agama tertua yang berkitab suci, yang diperkenalkan pada komunitas animis yang masih buta huruf di Asia Selatan. Agama ini menghasilkan tarikh-tarikh dalam bentuk Purana. Tradisi Purana ini kemudian diperluas dengan tarikh-tarikh dinasti, namun tetap memiliki ciri-ciri:
a. Tidak dikenal umum.
b. Dibesar-besarkan.
c. Kurang data yang otentik.
d. Pengabaian topografi dan kronologi.
Epik Mahabarata dan Ramayana banyak berpengaruh dan banyak dipakai sebagai sumber dalam suatu tradisi historiografi. Kedua epik ini bersama-bersama dengan cerita Pancatrata dan Jataka dari agama Budha menjadi sumber dari cerita-cerita jenaka dan tradisi berkisah untuk penulisan geneologis Budhis dan kronik-kronik di Srilanka. Di Srilanka dalam perkembangannya muncul tradisi wamsa (terutama kronik yang dikenal dengan Dipavamsa,
Mahamvasa, dan Culavamsa) menghasilkan beberapa kronik dengan prakarsa kraton, timbullah suatu tradisi ;penulisan sejarah. Karya-karya ini terbentuk tarikh dan kisah jenaka, ditulis dalam bentuk sanjak, serta pemakaiannya terbatas dikalangan kraton.
2. Setelah Masuknya Agama Islam ke India.
Suatu tradisi penulisan sejarah yang sudah berkembang baik diperkenalkan, dan selama enam abad lebih suatu cabang historiografi Islam menguasai Asia Selatan. Ciri-ciri utama penulisan Islam:
a. Terikat pada kepentingan-kepentingan kekuasaan yang sortodoks.
b. Cenderung mengabdi pada Tuhan dan komunitas Islam.
c. Ditujukan pada pendidikan moral dan agama melalui kisah-kisah nabi-nabi, kalifah-kalifah, sultan-sultan dan orang-orang besar dikalangan agama maupun kalangan pemerintah dari warisan sejarah India, dan dapat dikatakan sebagai bagian integral dari historiografi Asia Selatan.
B. Historiografi Modern
a. Ilmu pengetahuan barat di India mulai berkembang ketika terbentuk Society di Calcutta tahun 1784 yang didirikan oleh William James. Kegiatan lembaga ini mengenai penelitian dunia timur. Lahir pula lembaga-lembaga sejenis di Bombay, Madras, Mysore dan Srilanka, serta pertumbuhan lemabaga-lembaga ilmiahdi Perancis dan Jerman, seta ada kajian-kajiandi Eropa dalam abad ke-19, meriupakan landasan bagi perkembangan historiografi modern di asia selatan.
Sumbangan yang paling penting pada awalnya adalah dalam bidang:
a. Filiologi Sanskrit dan pengeditan teks-teks dari agama Veda dan agama Budha.
b. Penelitian tentang kepurbakalaan India, sebagai peletak dasae untuk menghadapi bahan-bahan dari India kuno yang sebelumnya tidak dapat dipelajari.
c. bidang Pra-Islam. Periode ini sangat menarikkarena tidak ada kronologi, tidak ada geneologi yang dapat dipercaya, dan tidak ada ketentuan yang dapat menjelaskan amnusia dengan tepat.
Abad ke-20 historiografi Asia Selatan mulai terpengaruh secara langsung dan kuat oleh metodologi Barat. Ada dua cara:
a. Suatu penghargaan yang lebih mendalam terhadap metode-metode ilmiah barat, terutama setelah penelitian arkheologis yang paling gemilang terhadap Mohenjodaro dan Harrapa.
b. Pendekatan Nasionalitis dan anti Imperialistis, yang dalam bentuknya yang paling ekstrim menghasilkan penulisan-penulisan sejarah yang buruk dan revisionitas pada satu pihak, dan pada pihak lain memberi perangsang bagi historiografi Marxis dan lain-lain dalam bentukhistoriografi yang radikal.
India setelah kemerdekaan, penulisan sejarah berkembang terus terutama melalui lembaga-lembaga seperti:
- Archeological Survey (Dinas Arkheologi)
- History Records Commission (Komisi Arsip Sejarah)
- India History Congress (Konggres Sejarah India)
Pernah mengadakan konferensi tentang Sejarah Asia pada tahun 1961 dan pertemuan Internasional dari International Conggres of Orientallis (Konggres Internasioanl ahli-ahli mengenai dunia Timur) yang diadakan New Delhi tahun 1965.
Di Pakistan perkembangan Historiografi sejak tahun 1947 kurang menonjol. Pemisahannya dengan India menyebabkan negara baru ini kekurangan fasilitas penelitian. Para sejarahwan Pakistan mulai menghidupkan kembali tradisi-tradisi historiografi Islam. Karya-karya terpenting dihasilkan oleh A. Yusuf Ali, Shafa”at Ahmad Khan dan I.H. Qureshi, yang sudah terkenal sebelum pemisahan dengan India.
Di Sri Lanka perkembangan historiografi agak terlambat. Namun hasilnya dapat disaksikan dalam penerbitan-penerbitan dari Ceylon Branch of the Royal Asiatic Society (Cabang Sri Lanka dari Masyarakat Kerajaan Asia), dan Ceylon Journal of Historical and Social Studies (Jurnal Sri Lanka untuk studi sejarah dan sosial)yang belum lama terbentuk.
A. Historiografi Tradisional
Historiografi Asia Selatan Tradisional dapat dibedakan menjadi dua yakni:
1. Sebelum masuknya agama Islam ke India
Agama veda merupakan agama tertua yang berkitab suci, yang diperkenalkan pada komunitas animis yang masih buta huruf di Asia Selatan. Agama ini menghasilkan tarikh-tarikh dalam bentuk Purana. Tradisi Purana ini kemudian diperluas dengan tarikh-tarikh dinasti, namun tetap memiliki ciri-ciri:
a. Tidak dikenal umum.
b. Dibesar-besarkan.
c. Kurang data yang otentik.
d. Pengabaian topografi dan kronologi.
Epik Mahabarata dan Ramayana banyak berpengaruh dan banyak dipakai sebagai sumber dalam suatu tradisi historiografi. Kedua epik ini bersama-bersama dengan cerita Pancatrata dan Jataka dari agama Budha menjadi sumber dari cerita-cerita jenaka dan tradisi berkisah untuk penulisan geneologis Budhis dan kronik-kronik di Srilanka. Di Srilanka dalam perkembangannya muncul tradisi wamsa (terutama kronik yang dikenal dengan Dipavamsa,
Mahamvasa, dan Culavamsa) menghasilkan beberapa kronik dengan prakarsa kraton, timbullah suatu tradisi ;penulisan sejarah. Karya-karya ini terbentuk tarikh dan kisah jenaka, ditulis dalam bentuk sanjak, serta pemakaiannya terbatas dikalangan kraton.
2. Setelah Masuknya Agama Islam ke India.
Suatu tradisi penulisan sejarah yang sudah berkembang baik diperkenalkan, dan selama enam abad lebih suatu cabang historiografi Islam menguasai Asia Selatan. Ciri-ciri utama penulisan Islam:
a. Terikat pada kepentingan-kepentingan kekuasaan yang sortodoks.
b. Cenderung mengabdi pada Tuhan dan komunitas Islam.
c. Ditujukan pada pendidikan moral dan agama melalui kisah-kisah nabi-nabi, kalifah-kalifah, sultan-sultan dan orang-orang besar dikalangan agama maupun kalangan pemerintah dari warisan sejarah India, dan dapat dikatakan sebagai bagian integral dari historiografi Asia Selatan.
B. Historiografi Modern
a. Ilmu pengetahuan barat di India mulai berkembang ketika terbentuk Society di Calcutta tahun 1784 yang didirikan oleh William James. Kegiatan lembaga ini mengenai penelitian dunia timur. Lahir pula lembaga-lembaga sejenis di Bombay, Madras, Mysore dan Srilanka, serta pertumbuhan lemabaga-lembaga ilmiahdi Perancis dan Jerman, seta ada kajian-kajiandi Eropa dalam abad ke-19, meriupakan landasan bagi perkembangan historiografi modern di asia selatan.
Sumbangan yang paling penting pada awalnya adalah dalam bidang:
a. Filiologi Sanskrit dan pengeditan teks-teks dari agama Veda dan agama Budha.
b. Penelitian tentang kepurbakalaan India, sebagai peletak dasae untuk menghadapi bahan-bahan dari India kuno yang sebelumnya tidak dapat dipelajari.
c. bidang Pra-Islam. Periode ini sangat menarikkarena tidak ada kronologi, tidak ada geneologi yang dapat dipercaya, dan tidak ada ketentuan yang dapat menjelaskan amnusia dengan tepat.
Abad ke-20 historiografi Asia Selatan mulai terpengaruh secara langsung dan kuat oleh metodologi Barat. Ada dua cara:
a. Suatu penghargaan yang lebih mendalam terhadap metode-metode ilmiah barat, terutama setelah penelitian arkheologis yang paling gemilang terhadap Mohenjodaro dan Harrapa.
b. Pendekatan Nasionalitis dan anti Imperialistis, yang dalam bentuknya yang paling ekstrim menghasilkan penulisan-penulisan sejarah yang buruk dan revisionitas pada satu pihak, dan pada pihak lain memberi perangsang bagi historiografi Marxis dan lain-lain dalam bentukhistoriografi yang radikal.
India setelah kemerdekaan, penulisan sejarah berkembang terus terutama melalui lembaga-lembaga seperti:
- Archeological Survey (Dinas Arkheologi)
- History Records Commission (Komisi Arsip Sejarah)
- India History Congress (Konggres Sejarah India)
Pernah mengadakan konferensi tentang Sejarah Asia pada tahun 1961 dan pertemuan Internasional dari International Conggres of Orientallis (Konggres Internasioanl ahli-ahli mengenai dunia Timur) yang diadakan New Delhi tahun 1965.
Di Pakistan perkembangan Historiografi sejak tahun 1947 kurang menonjol. Pemisahannya dengan India menyebabkan negara baru ini kekurangan fasilitas penelitian. Para sejarahwan Pakistan mulai menghidupkan kembali tradisi-tradisi historiografi Islam. Karya-karya terpenting dihasilkan oleh A. Yusuf Ali, Shafa”at Ahmad Khan dan I.H. Qureshi, yang sudah terkenal sebelum pemisahan dengan India.
Di Sri Lanka perkembangan historiografi agak terlambat. Namun hasilnya dapat disaksikan dalam penerbitan-penerbitan dari Ceylon Branch of the Royal Asiatic Society (Cabang Sri Lanka dari Masyarakat Kerajaan Asia), dan Ceylon Journal of Historical and Social Studies (Jurnal Sri Lanka untuk studi sejarah dan sosial)yang belum lama terbentuk.
PERKEMBANGAN HISTORIOGRAFI ISLAM
Historiografi Islam adalah penulisan sejarah yang dilakukan oleh orang Islam baik kelompok maupun perorangan dari berbagai aliran dan didalam masa tertentu. Tujuannya adalah untuk menunjukkan perkembangan konsep sejarah baik di dalam pemikiran maupun di dalam pemikiran maupun di dalam pendekatan ilmiah yang dilakukannya disertai dengan uraian mengenai pertumbuhan, perkembangan dan kemunduran bentuk-bentuk ekspresi yang dipergunakan dalam penyajian bahan-bahan sejarah. Kebanyakan karya-karya banyak ditulis dalam bahasa Arab, namun banyak pula yang berbahasa lain seperti Persia dan Turki.
A. Asal Mula Sejarah
Historiografi Islam terkait erat dengan perkembangan ilmu pengetahuan agama Islam, dan kedudukan sejarah di dalam pendidikan Islam telah memberikan pengaruh yang menentukan tingkat intelektual penulisan sejarah. Historiografi Islam lebih mudah dipelajari dan dipahami dalam kerangka umum peradaban Islam. Perkembangan peradaban Islam merupakan pencerminan besar di dalam sejarah. Dari beberapa penelitian kebudayaaan menunjukkan bahwa:
a. Bahwa Islam sebagai suatu agama dunia telah menunjukkan suatu perkembangan yang mengagumkan di dalam sejarah dunia.
b. Lebih jauh Islam sebagai agama telah memancarkan pula suatu peradaban.
c. Di dalam perkembangan peradaban Islam, tradisi-tradisi kebudayaan asing diserap, dimodifikasi, kemudian yang tidak sesuai dihilangkan.
d. Peradaban Islam menyajikan suatu sistem yang lengkap mengenai pemikiran dan tingkah laku yang berkembang sebagai suatu dorongan utama yang meliputi hubungan manusia dengan Tuhan, alam dan dengan manusia sendiri.
Hal-hal yang mendorong perkembangan pesat bagi penulisan sejarah Islam adalah:
1. Konsep Islam sebagai agama yang mengandung Sejarah. Nabi telah menyediakan suatu kerangka bagi suatu wadah sejarah yang amat luas untuk diisi dan ditafsirkan oleh para sejarawan.
2. Adanya kesadaran sejarah yang dipupuk oleh Nabi Muhammad. Kesadaran sejarah yang besar menjadi pendorong untuk penelitian dan penulisan sejarah.
Tahab perkembangan mekanisme yang menciptakan Islam:
a. Pada awalnya informasi disampaikan secara Lisan.
b. Kemudian metode penyampaian lisan ini (oral transmission) dilengkapi dengan catatan tertulis yang tidak dipublikasikan , yaitu semacam pelapor catatan.
Sebagian besar karya-karya Islam terdahulu banyak yang hilang, karena tidak ada lembaga penerbitan dan bahan-bahan tulis yang tahna lama, kemungkinan juga disebabkan pergantian kekuasaan Ummayah (660-750) banyak yang dimusnahkan. Beberapa contoh karya sejarawan Islam masa ini:
1. Urwah ibn. Az-Zubyar (650-711), salah seorang sarjana muslim yang telah menulis buku Peperangan Oleh Nabi.
2. Al-Zuhri (670-740), telah menulis sebuah karya mengenai “Silsilah Bangsanya”. Selain itu ia juga menulis kemungkinan untuk kepentingan pribadi masa kekuasaan para Khalifah.
3. Musa Ibn. Uqnah (758/759), berupa fragmen singkat, yang tidak seluruhnya mengandung sejarah.
4. Ibn Ishaq (704-767), menulis karya sejarah besar yang paling tua dan yang masih terpelihara sampai sekarang, walaupun mengalami perbaikan kemudiian yaitu Biografi Nabi atau Sirah.
B. Bentuk dan Isi Karya Sejarah
Tradisi Arab sebelum Islam telah menekankan unsur fakta yang konkrid dalam sejarah, terlepas dari lingkungannya dan sedapat mungkin tidak mengalami perubahan oleh proses berfikir manusia. Bentuk dasar karya Islam adalah: pernyataan sederhana, peristiwa-peristiwa lepas, tanpa bobot, walaupun anaka ragam, penonlolan otak, semuanya disususn sekaligus tanpa suatu penjelasan mengenai sebab musabahnya. Kebenaran sejarah, sebagai mana kebenaran agama telah dianggap terjamin oleh sifat jujur dari sejumlah orang yang menyampaikan suatu informasi secara berantaisehingga mereka disebut “rangkaian pemberi kabar” atau isnad.
1. Khabar
Yaitu, bentuk historiografi yang paling tua yang langsung berhubungan dengan cerita perang dengan uraian yang baik dan sempurna di tulis dalam bebebrapa halaman saja. Ciri khas Khabar yaitu:
a. Tidak terdapat hubungan sebab-akibat di antara dua atau lebih peristiwa-peristiwa.
b. Khabar sudah ada sebelum Islam jadi berupa cerita perang dengan bentuk cerita pendek yang disajikan dalam bentuk dialog yang meringankan ahli sejarah.
c. Bentuk khabar lebih banyak merupakan gambaran yang beraneka ragam.
Contoh beberapa karya sejarah yang menggunakan bentuk khabar:
a. Ali Ibn Muhammad al-Madani (wafat tahun 831). monograf yang berhasil ditemukan adalah al-Murdifat min Quraysy (wanita Quraisy yang bayak suami)
b. Abu Mihnaf Luth ibn Yahya (wafat tahun 774)
c. Al-Haitsam ibn Adi (wafat tahun 821) dan Ibn Habib. karyanya merupakan kumpulan monograf dalam bentuk khabar atau nasab.
2. Kronik
Penyusunan sejarah berdasarkan urutan penguasa dan tahun-tahun kejadian. Kronik ini bisa ditambah dengan hal-hal baru dalam bentuk suplemen yang lazim disebut dyal atau ekor.
Contoh karya sejarah (kronik) tertua:
a. Karya Khalifah ibn. Khayyat, dalam bahasa Arab, ditulis sampai tahun 847 kira-kira delapan tahun sebelum penulisnya meninggal. Ia memulai uraiannya mengenai arti tarikh dan uraian singkat mengenai sejarah Muhammad pada permulaan hayatnya.
b. Ya’kub ibn. Sufyan (wafat tahun 891). Kitab sejarahnya ditulis pada pertengahan kedua abad ke-9. Ditulis menurut urutan tahun ditambah beberapa kutipan-kutipan.
c. Ibn Abi Haithamah (wafat tahun 893). Juga menunjukkan fasal-fasal dengan urutan tahun walaupun terbatas bila dibandingkan dengan karya lainnya secara keseluruhan.
d. Ibn Jarier al-Tabari (923), karya standar terdiri beberapa jilid mengenai historiografi kronik ialah Tarikh al-Uman wa al-Muluk. Uraian-uraian itu meliputi sejarah nabi di Mekkah, istri-istri Rasulullah, orang-orang murtad,biografi Abu Bakar, dsb. Tulisan yang lain adalah Adab al Manasik, Adab al-Nufus, Iktilaf ulama al-Amshar, Tahdzib Atsar, Jami al-Bayan al ta’wil Ayl al-Quran, al Jami’ fi al Qiraat, Zail al Zall al Muzayyal dll. Tulisannya banyak mempengaruhi arah penulisan selanjutnya.
3. Biografi
Biografi disusun dalam kelompok yang lazim disebut “tabaqah”. Karya ini mencakup sejarah hidup orang-orang besar, tokoh-tokoh terkemuka serta orang-orang penting yang telah meninggal dalam waktu yang kira-kira sama.
Di dalam masyarakat Islam ada beberapa faktor mengapa biografi menjadi dominan:
a. Biografi Nabi Muhammad SAW merupakan sumber utama bagi pembangunan masyarakat Islam.
b. Meriwayatkan kehidupan Nabi Muhammad SAW secara terinci tergantung kepada para perawi secara individual, isinya dapat ditolak ataupun diterima tergantung kepada data kehidupan perawi itu sendiri.
c. Perjuangan didalam menegakkan Islam sebagian besar ditunjukkan oleh keunggulan pribadi-pribadi pemimpinnya, yang telah sangat berjasa di dalam perjuangan itu.
Sejak abad ke-10, penyusunan biografi menurut abjad merupakan cara yang diutamakan.
Beberapa karya biografi:
a. al-Dzahabi dalam kitabnya Tarikh al-Islam wa thabaqat masyahir al a’lam sanggup menunjukkan tanggal lahir tiap-tiap tahun bagi nama-nama yang dicantumkannya di di dalam kitabnya.
b. Khatib al-Baghdadi dalam kitab Tarikh Baghdad, tanggal kelahiran dan kematian disebutkan masing-masing di dalam permulaan penulisan biografi.
c. Yaqut (1229), berjudul Irshad al-arib ila ma’rifat al-adib.
d. Abi Usaybiah (1270), tulisannya berjudul Ujun al-anba fi tabagat al-atibba
e. Ibn Khallikan (1282), biografi tokoh-tokoh terkemuka berjudul wafayat al-A’yan.
4. Sejarah Umum
Pada akhir abad ke-9, sejarah politik dikaitkan dengan sejarah pemikiran, dan mulai membicarakan berbagai gejala penting dari peradaban-peradaban yang pernah dikenal, diantaranya:
a. Karya sejarah al-Yaqubi, berjudul Tarikh al-Yaqubi yang disebarkan oleh Goutsma di Leiden tahun 1883 terdiri dari dua jilid.
b. Al-Mas’udi menulis tentang Muruj az-Zahab yang masih berpengaruh terhadap karya-karya selanjutnya.
c. Karya Muhammad Ibn Jarir al-Thabari, berjudul Tarikh al-Umam wa al-Muluk. Berisi uraian sejarah mengenai agama, hukum dan kejadian politik lainnya.
d. Miskawiyah dengan karyanya Tajarib al-Umam. Berisi uraian mengenai sejarah Persia Kuno, dan riwayat kerajaan Romawi dan Turki.
e. Rashid ad-Din Fadlalh (1318) dari Asia Tengah, karyanya mengenai Sejarah Umum (Jami’at-tawarikh), ditulis dalam bahasa Persia dan merupakan karya asli pertama sejarah universal Islam.
C. Para Sejarawan
Sebagian besar karya historiografi Islam adalah berkat jasa sarjana-sarjana terdidik dalam ilmu agama. Kegiatan penulisan mereka menyangkut pula penulisan sejarah.
1. Sejarawan Istana.
Sejarawan profesional di istana merupakan bagian penting di beberapa istana, seperti istana dinasti yang lebih muda dari Persia dan Ottoman yang menyediakan fasilitas yang amat mendorong untuk melakukan studi sejarah. Jumlah mereka tidak banyak, dan mereka berjasa dalam menghasilkan karya-karya terbaik dalam sejarah Islam.
2. Sejarawan Amatir
Para penguasa yang menulis karya-karya sejarah dan memoar dapat dikatakan sebagai sejarawan amatir. sebagian besar dari karya-karya ini menyangkut silsilah (geneologi).
3. Sejarawan Profesional.
Adalah orang-orang yang mengabdikan dirinya dalam menyusun karya-karya sejarah dan menganggap diri mereka atau dianggap oleh tradisi Islam sebagai sejarawan. Sejarawan profesional dalm pengertian modern hampir tidak ada dalam lingkungan abad pertengahan. contoh: Al-Mas’udi dan Al-Magrizi (1442) pada masa kekuasaan dinasti Mamluk di Mesir.
D. Tujuan dan Metodologi Historiografi
Sejarawan muslim mempunyai kebiasaan untuk memperkenalkan karya-karya mereka dengan pernyataan yang berisi tujuan dari penulisan sejarah. Sejarah juga mempunyai manfaat antara lain; (1)mengajrkan contoh-contoh baik, (2)mengajarkan bagaimana menanggulangi masalah-masalah yang dihadapi di dunia ini, (3)mengajarkan kepada para politikus bagaiman mengendalikan pemerintahan yang baik, (4)sesuatu yang menarik tetapi memerlukan pemikiran.
Tugas utama ahli sejarah adalah menyusun apa yang benar-benar terjadi dan masalah pokok yang mereka hadapi adalah menyelidiki kebenaran informasi yang diperoleh, baik secara lisan maupun melalui sumber-sumber tertulis. Sejarah tertulis telah memberikan suatu wewenang pembuktian (evidental authority). Penelitian arsip dan studi inskripsi, mata uang, dan bukti-bukti sejarah yang hampir bersamaan hanya secara sporadis saja dipergunakan. Ada beberapa sejarawan yang membicarakan metodologi historiografi islam di antaranya:
a. Karya Muhammad bn. Ibrahim al-Iji yaitu Tuhfatu al-Faqier ila Shahibi al-Sarier ditulis tahun 1381-1382.
b. Muhyiddin Muhammad Ibn Sulaiman al0Kafiyani (1386-1474). Al-Kafiyani, juga menulis karya komprehensif mengenai historiografi Islam, metode, masalah-masalahnya, dan sejarah dengan kitapnya Mukhtashar fi ilm al-Tarikh yang terbit di kairo tahun 1463.
c. Syamsuddin al-Sakhawi (1427-1497) dengan karyanya al-I’lan bi al-Taubiekhi liman dzamma ahla al-Tawarikh terbit tahun 1492 di Mekkah.
Selain diatas juga terdapat Ibn Farighun dengan karya Jawawi’al-‘Ulum, Fakhr al-Din al-Razi dengan Haqaiq al-Anwar, Ibn al-‘Adiem dengan Bughyat al-Thalab, Al-Magriezi dengan Khabar ‘an al-Basyar, Al-Dzahabi dengan Thabaqat al-Qurra’.
E. Filsafat dan Sosiologi Islam
Pandangan sejarawan Muslim, bahwa sejarah adalah media pilihan Tuhan untuk memperbaiki manusia dan sebagai persipan untuk menghadapi hari perhitungan dari akhir dunia yang tidak dapat dielakkan.
Mishkawayh dalam karyanya berjudul Pengalaman Bangsa-bangsa, ia menyangkal bahwa peristiwa-peristiwa yang diakibatkan oleh cam[purtangan dari kekuatan di luar manusia yang terjadi dalam sejarah. Sedangkan Ibn Khaldun dari Afrika Utara (1406), menulis dalam tahun 1377, ia menyusun suatu sistem yang masuk akal untuk proses sejarah ditinjau dari sudut manusia belaka. Dalam pengantarnya (Mukadimah) dari buku mengenai sejarah unjversal Kitab al-Ibar, menguraikan bahwa manusia bergantung kepada kekuatan-kekuatan materi dan psikologi, yang diuraikannya secara terperinci.
F. Historiografi Islam Kontemporer
Pada abad ke-19, terdapat beberapa terjemahan karya-karya Barat yang pernah terkenal. Pada waktu itu perhatian terdapat sejarah non-Islam masih tetap terbatas, dan saatb sekarang telah banyak sejarawan Islam yang memperoleh pendidikan Barat dalam latihan ilmiah dan metodelogi. Mereka mulai menerbitkan karya-karya sejarah penting.
Sejarah historiografi Islam secara umum ditulis oleh Franz Rosenthal dalam satu karyuanya A History of Muslim Historiography yang terbit pertama tahun 1952. Karya ini telah memberikan suatu pengaruh yang besar dalammenelusuri sejarah penulisan sejarah Islam.
Suatu karya mengenai Historiografi Islam ditulis oleh seorang intelektual muda India bernama Nizar Ahmed Faruqi berjudul Early Muslim Historiography yang terbit tahun 1979 di New Delhi. Disertasi ini sebagai dokumentasi yang menyajikan perspektif penulisan sejarah pada permulaan Islam (612-750). Beberapa karya lain yang dapat dijadikan bahan studi historiografi Islam adalah tulisan J.H Kramers, “Historiography among the Osmani Turks”.
A. Asal Mula Sejarah
Historiografi Islam terkait erat dengan perkembangan ilmu pengetahuan agama Islam, dan kedudukan sejarah di dalam pendidikan Islam telah memberikan pengaruh yang menentukan tingkat intelektual penulisan sejarah. Historiografi Islam lebih mudah dipelajari dan dipahami dalam kerangka umum peradaban Islam. Perkembangan peradaban Islam merupakan pencerminan besar di dalam sejarah. Dari beberapa penelitian kebudayaaan menunjukkan bahwa:
a. Bahwa Islam sebagai suatu agama dunia telah menunjukkan suatu perkembangan yang mengagumkan di dalam sejarah dunia.
b. Lebih jauh Islam sebagai agama telah memancarkan pula suatu peradaban.
c. Di dalam perkembangan peradaban Islam, tradisi-tradisi kebudayaan asing diserap, dimodifikasi, kemudian yang tidak sesuai dihilangkan.
d. Peradaban Islam menyajikan suatu sistem yang lengkap mengenai pemikiran dan tingkah laku yang berkembang sebagai suatu dorongan utama yang meliputi hubungan manusia dengan Tuhan, alam dan dengan manusia sendiri.
Hal-hal yang mendorong perkembangan pesat bagi penulisan sejarah Islam adalah:
1. Konsep Islam sebagai agama yang mengandung Sejarah. Nabi telah menyediakan suatu kerangka bagi suatu wadah sejarah yang amat luas untuk diisi dan ditafsirkan oleh para sejarawan.
2. Adanya kesadaran sejarah yang dipupuk oleh Nabi Muhammad. Kesadaran sejarah yang besar menjadi pendorong untuk penelitian dan penulisan sejarah.
Tahab perkembangan mekanisme yang menciptakan Islam:
a. Pada awalnya informasi disampaikan secara Lisan.
b. Kemudian metode penyampaian lisan ini (oral transmission) dilengkapi dengan catatan tertulis yang tidak dipublikasikan , yaitu semacam pelapor catatan.
Sebagian besar karya-karya Islam terdahulu banyak yang hilang, karena tidak ada lembaga penerbitan dan bahan-bahan tulis yang tahna lama, kemungkinan juga disebabkan pergantian kekuasaan Ummayah (660-750) banyak yang dimusnahkan. Beberapa contoh karya sejarawan Islam masa ini:
1. Urwah ibn. Az-Zubyar (650-711), salah seorang sarjana muslim yang telah menulis buku Peperangan Oleh Nabi.
2. Al-Zuhri (670-740), telah menulis sebuah karya mengenai “Silsilah Bangsanya”. Selain itu ia juga menulis kemungkinan untuk kepentingan pribadi masa kekuasaan para Khalifah.
3. Musa Ibn. Uqnah (758/759), berupa fragmen singkat, yang tidak seluruhnya mengandung sejarah.
4. Ibn Ishaq (704-767), menulis karya sejarah besar yang paling tua dan yang masih terpelihara sampai sekarang, walaupun mengalami perbaikan kemudiian yaitu Biografi Nabi atau Sirah.
B. Bentuk dan Isi Karya Sejarah
Tradisi Arab sebelum Islam telah menekankan unsur fakta yang konkrid dalam sejarah, terlepas dari lingkungannya dan sedapat mungkin tidak mengalami perubahan oleh proses berfikir manusia. Bentuk dasar karya Islam adalah: pernyataan sederhana, peristiwa-peristiwa lepas, tanpa bobot, walaupun anaka ragam, penonlolan otak, semuanya disususn sekaligus tanpa suatu penjelasan mengenai sebab musabahnya. Kebenaran sejarah, sebagai mana kebenaran agama telah dianggap terjamin oleh sifat jujur dari sejumlah orang yang menyampaikan suatu informasi secara berantaisehingga mereka disebut “rangkaian pemberi kabar” atau isnad.
1. Khabar
Yaitu, bentuk historiografi yang paling tua yang langsung berhubungan dengan cerita perang dengan uraian yang baik dan sempurna di tulis dalam bebebrapa halaman saja. Ciri khas Khabar yaitu:
a. Tidak terdapat hubungan sebab-akibat di antara dua atau lebih peristiwa-peristiwa.
b. Khabar sudah ada sebelum Islam jadi berupa cerita perang dengan bentuk cerita pendek yang disajikan dalam bentuk dialog yang meringankan ahli sejarah.
c. Bentuk khabar lebih banyak merupakan gambaran yang beraneka ragam.
Contoh beberapa karya sejarah yang menggunakan bentuk khabar:
a. Ali Ibn Muhammad al-Madani (wafat tahun 831). monograf yang berhasil ditemukan adalah al-Murdifat min Quraysy (wanita Quraisy yang bayak suami)
b. Abu Mihnaf Luth ibn Yahya (wafat tahun 774)
c. Al-Haitsam ibn Adi (wafat tahun 821) dan Ibn Habib. karyanya merupakan kumpulan monograf dalam bentuk khabar atau nasab.
2. Kronik
Penyusunan sejarah berdasarkan urutan penguasa dan tahun-tahun kejadian. Kronik ini bisa ditambah dengan hal-hal baru dalam bentuk suplemen yang lazim disebut dyal atau ekor.
Contoh karya sejarah (kronik) tertua:
a. Karya Khalifah ibn. Khayyat, dalam bahasa Arab, ditulis sampai tahun 847 kira-kira delapan tahun sebelum penulisnya meninggal. Ia memulai uraiannya mengenai arti tarikh dan uraian singkat mengenai sejarah Muhammad pada permulaan hayatnya.
b. Ya’kub ibn. Sufyan (wafat tahun 891). Kitab sejarahnya ditulis pada pertengahan kedua abad ke-9. Ditulis menurut urutan tahun ditambah beberapa kutipan-kutipan.
c. Ibn Abi Haithamah (wafat tahun 893). Juga menunjukkan fasal-fasal dengan urutan tahun walaupun terbatas bila dibandingkan dengan karya lainnya secara keseluruhan.
d. Ibn Jarier al-Tabari (923), karya standar terdiri beberapa jilid mengenai historiografi kronik ialah Tarikh al-Uman wa al-Muluk. Uraian-uraian itu meliputi sejarah nabi di Mekkah, istri-istri Rasulullah, orang-orang murtad,biografi Abu Bakar, dsb. Tulisan yang lain adalah Adab al Manasik, Adab al-Nufus, Iktilaf ulama al-Amshar, Tahdzib Atsar, Jami al-Bayan al ta’wil Ayl al-Quran, al Jami’ fi al Qiraat, Zail al Zall al Muzayyal dll. Tulisannya banyak mempengaruhi arah penulisan selanjutnya.
3. Biografi
Biografi disusun dalam kelompok yang lazim disebut “tabaqah”. Karya ini mencakup sejarah hidup orang-orang besar, tokoh-tokoh terkemuka serta orang-orang penting yang telah meninggal dalam waktu yang kira-kira sama.
Di dalam masyarakat Islam ada beberapa faktor mengapa biografi menjadi dominan:
a. Biografi Nabi Muhammad SAW merupakan sumber utama bagi pembangunan masyarakat Islam.
b. Meriwayatkan kehidupan Nabi Muhammad SAW secara terinci tergantung kepada para perawi secara individual, isinya dapat ditolak ataupun diterima tergantung kepada data kehidupan perawi itu sendiri.
c. Perjuangan didalam menegakkan Islam sebagian besar ditunjukkan oleh keunggulan pribadi-pribadi pemimpinnya, yang telah sangat berjasa di dalam perjuangan itu.
Sejak abad ke-10, penyusunan biografi menurut abjad merupakan cara yang diutamakan.
Beberapa karya biografi:
a. al-Dzahabi dalam kitabnya Tarikh al-Islam wa thabaqat masyahir al a’lam sanggup menunjukkan tanggal lahir tiap-tiap tahun bagi nama-nama yang dicantumkannya di di dalam kitabnya.
b. Khatib al-Baghdadi dalam kitab Tarikh Baghdad, tanggal kelahiran dan kematian disebutkan masing-masing di dalam permulaan penulisan biografi.
c. Yaqut (1229), berjudul Irshad al-arib ila ma’rifat al-adib.
d. Abi Usaybiah (1270), tulisannya berjudul Ujun al-anba fi tabagat al-atibba
e. Ibn Khallikan (1282), biografi tokoh-tokoh terkemuka berjudul wafayat al-A’yan.
4. Sejarah Umum
Pada akhir abad ke-9, sejarah politik dikaitkan dengan sejarah pemikiran, dan mulai membicarakan berbagai gejala penting dari peradaban-peradaban yang pernah dikenal, diantaranya:
a. Karya sejarah al-Yaqubi, berjudul Tarikh al-Yaqubi yang disebarkan oleh Goutsma di Leiden tahun 1883 terdiri dari dua jilid.
b. Al-Mas’udi menulis tentang Muruj az-Zahab yang masih berpengaruh terhadap karya-karya selanjutnya.
c. Karya Muhammad Ibn Jarir al-Thabari, berjudul Tarikh al-Umam wa al-Muluk. Berisi uraian sejarah mengenai agama, hukum dan kejadian politik lainnya.
d. Miskawiyah dengan karyanya Tajarib al-Umam. Berisi uraian mengenai sejarah Persia Kuno, dan riwayat kerajaan Romawi dan Turki.
e. Rashid ad-Din Fadlalh (1318) dari Asia Tengah, karyanya mengenai Sejarah Umum (Jami’at-tawarikh), ditulis dalam bahasa Persia dan merupakan karya asli pertama sejarah universal Islam.
C. Para Sejarawan
Sebagian besar karya historiografi Islam adalah berkat jasa sarjana-sarjana terdidik dalam ilmu agama. Kegiatan penulisan mereka menyangkut pula penulisan sejarah.
1. Sejarawan Istana.
Sejarawan profesional di istana merupakan bagian penting di beberapa istana, seperti istana dinasti yang lebih muda dari Persia dan Ottoman yang menyediakan fasilitas yang amat mendorong untuk melakukan studi sejarah. Jumlah mereka tidak banyak, dan mereka berjasa dalam menghasilkan karya-karya terbaik dalam sejarah Islam.
2. Sejarawan Amatir
Para penguasa yang menulis karya-karya sejarah dan memoar dapat dikatakan sebagai sejarawan amatir. sebagian besar dari karya-karya ini menyangkut silsilah (geneologi).
3. Sejarawan Profesional.
Adalah orang-orang yang mengabdikan dirinya dalam menyusun karya-karya sejarah dan menganggap diri mereka atau dianggap oleh tradisi Islam sebagai sejarawan. Sejarawan profesional dalm pengertian modern hampir tidak ada dalam lingkungan abad pertengahan. contoh: Al-Mas’udi dan Al-Magrizi (1442) pada masa kekuasaan dinasti Mamluk di Mesir.
D. Tujuan dan Metodologi Historiografi
Sejarawan muslim mempunyai kebiasaan untuk memperkenalkan karya-karya mereka dengan pernyataan yang berisi tujuan dari penulisan sejarah. Sejarah juga mempunyai manfaat antara lain; (1)mengajrkan contoh-contoh baik, (2)mengajarkan bagaimana menanggulangi masalah-masalah yang dihadapi di dunia ini, (3)mengajarkan kepada para politikus bagaiman mengendalikan pemerintahan yang baik, (4)sesuatu yang menarik tetapi memerlukan pemikiran.
Tugas utama ahli sejarah adalah menyusun apa yang benar-benar terjadi dan masalah pokok yang mereka hadapi adalah menyelidiki kebenaran informasi yang diperoleh, baik secara lisan maupun melalui sumber-sumber tertulis. Sejarah tertulis telah memberikan suatu wewenang pembuktian (evidental authority). Penelitian arsip dan studi inskripsi, mata uang, dan bukti-bukti sejarah yang hampir bersamaan hanya secara sporadis saja dipergunakan. Ada beberapa sejarawan yang membicarakan metodologi historiografi islam di antaranya:
a. Karya Muhammad bn. Ibrahim al-Iji yaitu Tuhfatu al-Faqier ila Shahibi al-Sarier ditulis tahun 1381-1382.
b. Muhyiddin Muhammad Ibn Sulaiman al0Kafiyani (1386-1474). Al-Kafiyani, juga menulis karya komprehensif mengenai historiografi Islam, metode, masalah-masalahnya, dan sejarah dengan kitapnya Mukhtashar fi ilm al-Tarikh yang terbit di kairo tahun 1463.
c. Syamsuddin al-Sakhawi (1427-1497) dengan karyanya al-I’lan bi al-Taubiekhi liman dzamma ahla al-Tawarikh terbit tahun 1492 di Mekkah.
Selain diatas juga terdapat Ibn Farighun dengan karya Jawawi’al-‘Ulum, Fakhr al-Din al-Razi dengan Haqaiq al-Anwar, Ibn al-‘Adiem dengan Bughyat al-Thalab, Al-Magriezi dengan Khabar ‘an al-Basyar, Al-Dzahabi dengan Thabaqat al-Qurra’.
E. Filsafat dan Sosiologi Islam
Pandangan sejarawan Muslim, bahwa sejarah adalah media pilihan Tuhan untuk memperbaiki manusia dan sebagai persipan untuk menghadapi hari perhitungan dari akhir dunia yang tidak dapat dielakkan.
Mishkawayh dalam karyanya berjudul Pengalaman Bangsa-bangsa, ia menyangkal bahwa peristiwa-peristiwa yang diakibatkan oleh cam[purtangan dari kekuatan di luar manusia yang terjadi dalam sejarah. Sedangkan Ibn Khaldun dari Afrika Utara (1406), menulis dalam tahun 1377, ia menyusun suatu sistem yang masuk akal untuk proses sejarah ditinjau dari sudut manusia belaka. Dalam pengantarnya (Mukadimah) dari buku mengenai sejarah unjversal Kitab al-Ibar, menguraikan bahwa manusia bergantung kepada kekuatan-kekuatan materi dan psikologi, yang diuraikannya secara terperinci.
F. Historiografi Islam Kontemporer
Pada abad ke-19, terdapat beberapa terjemahan karya-karya Barat yang pernah terkenal. Pada waktu itu perhatian terdapat sejarah non-Islam masih tetap terbatas, dan saatb sekarang telah banyak sejarawan Islam yang memperoleh pendidikan Barat dalam latihan ilmiah dan metodelogi. Mereka mulai menerbitkan karya-karya sejarah penting.
Sejarah historiografi Islam secara umum ditulis oleh Franz Rosenthal dalam satu karyuanya A History of Muslim Historiography yang terbit pertama tahun 1952. Karya ini telah memberikan suatu pengaruh yang besar dalammenelusuri sejarah penulisan sejarah Islam.
Suatu karya mengenai Historiografi Islam ditulis oleh seorang intelektual muda India bernama Nizar Ahmed Faruqi berjudul Early Muslim Historiography yang terbit tahun 1979 di New Delhi. Disertasi ini sebagai dokumentasi yang menyajikan perspektif penulisan sejarah pada permulaan Islam (612-750). Beberapa karya lain yang dapat dijadikan bahan studi historiografi Islam adalah tulisan J.H Kramers, “Historiography among the Osmani Turks”.
PERKEMBANGAN HISTORIOGRAFI CINA
Cina merupakan suatu bangsa yang memiliki sejarah tertua yang tidak terputus di dunia. Pada mulanya sejarah Cina merupakan perpaduan antara cara-cara magico-religio dengan penyimpanan catatan. Hal ini mempunyai akibat sangat besar terhadap tradisi sejarah dinegeri Cina.
1. Kaisar Kuning (Huang Ti), untuk pertama kali melakukan penunjukkan sejarawan-sejarawan istana. Huang Ti merupakan salah satu pembentuk legendaris kebudayaan Cina.
2. Dinasti Shang (1751-1111 SM).
Arkheologi modern membuktikkan bahwa peramal istana dinasti Shang, telah menyimpan “arsip-arsip” ramalan mereka yang dituliskan pada tulang dan batok kura-kura.
3. Masa awal dinasti Chuo (1111-221 SM)
Catatan terpisah-pisah, terutama bab tertentu dari Shu Ching atau “Sejarah Klasik” mencerminkan suatu minat yang terus menerus pada sejarah keturunan para raja, tata cara dan legitimasi politik.
Zaman negara-negara Berperang (Chan Kuo, 481-221 SM), untuk pertama kalinya muncul pemikiran-pemiiran Cina yang sistematis. Kebiasaan yang selalu mengambil tokoh-tokoh sejarah merupakan faktor penting dalam pemikiran Cina. Confusius (551-479 SM) dan para pengikutnya sangat menekankan inti moral sejarah.
Negara kesatuan yang terbentuk pada tahun 221 SM, merupakan model perkembangan politik Cina pada masa-masa kemudian. Istana meneruskan dan memperkembangkan tradisi masa lalu dalam hal memperkerjakan sejarawan yang diberi tugas memelihara catatan-catatan kegiatan kaisar dan segala macam kejadian penting di dalam kerajaan.
4. Masa dinasti Han Awal (Ch’ien Han, 206 SM-9SM)
Sejarawan agung Ma-ch’ien meneruskan pekerjaan ayahnya menyusun sejarah. Ia menulis Shih,h Chi kitab sejarah pertama yang memuat sejarah Cina dari zaman yang samar-samar sampai pada kira-kira tahun 100 SM.
5. Masa dinasti Han Kemudian (Hou Han, 25-220 M)
Pan-pu, sejarawan istana, menulis kitab sejarah yang merupakan buku pertama dari rangkaian “sejarah dinasti” (tuan-tai sihih). Buku ini diberi nama Sejarah Dinasti Han Awal (Ch’ien Han Shu). Buku Shih Chi dan Ch’ien Han Shu menjadi model dan ditiru para sejarawan lainnya untuk penulisan buku-buku sejarah dinasti pada masa kemudian.
6. Zaman Perpecahan (220-586 SM), dominasi bangsa ‘bar-bar’.
Budhisme perlahan merembes ke dalam pemikiran bangsa Cina, namun demikian Budhisme hanya berpengaruh sangat kecil terhadap pemikiran kesejarahan Cina. Masa awal zaman ini merupakan zaman besar kedua pemikiran kreatif Cina. Liu Hsieh 9465-522 SM), menulis sebuah buku besar mengenai kesusasteraan. Sebagian buku ini membahas pula berbagai masalah historiografi yaitu pentingnya prinsip-prinsip umum, batasan-batasan untuk memilih hal-hal khusus, ukuran untuk mempercayai materi, serta persoalan keobyektifan dan prasangka.
7. Dinasti Tang (618-906) Zaman keemasan kesenian dan kesusasteraan.
Untuk pertama kalinya sejarah menjadi bahan baku dalam kurikulum ujian negara. Seorang pejabat negara Tu Yu (735-812) berusaha membebaskan diri dari tradisi-tradisi catatan dinasti dan menulis T’ung Tien. Berbentuk ensiklopedia dan dianggap sebagai sejarah institusional Cina yang pertama. Pada masa awal Tang diadakan perluasan atas aparat birokrasi yang bertugas mencatat peristiwa-peristiwa, memproses dokumuan, memeliharaarsip dan menulis sejarah.
Dalam menyusun sejarah dinasti, komisi-komisi kekaisaran telah menggantikan pengarang pers diadakan perluasan atas aparat birokrasi yang bertugas mencatat peristiwa-peristiwa, memproses dokumuan, memeliharaarsip dan menulis sejarah.
Dalam menyusun sejarah dinasti, komisi-komisi kekaisaran telah menggantikan pengarang perseorangan. Gejala ini mengawali adanya pembagian historiografi resmi dan tidak resmi yang terus berakhir sampai berakhirnya sistem kekaisaran.
8. Masa Sung (960-1279)
Penulisan sejarah para neo-Confusianisme memperlihatkan suatu kecermatan baru dalam menulis sejarah, kecenderungan untuk menggunakan sumber-sumber tak resmi dan usaha keras untuk menerangkan secara rasional yang dikombinasikan dengan kepercayaan kuat akan kekuatan moral.
9. Masa Dinasti Manchu (Ching, 1644-1911).
Perasaan yang tidak puas atas kekolotan neo-Confusianisme telah menyebabkan timbulnya suatu gerakan kritik yang sangat penting. Empirisme-rasional menyebabkan munculnya prinsip dan metode baru dalam geografis-historis, epigrafi, ilmu purbakala dan bidang-bidang lain. Ketika sistem kekaisaran runtuh. Metode dan semangat keraguan sejarawan baru tergambar secara luas dalam modernisasi historiografi Cina.
A. Pandangan Orang Cina tentang Sejarah
Istilah shih (sejarah) dalam terminologi Cina memiliki bermacam-macam arti. Konsepsi Cina mengenai sejarah ditentukan oleh unsur-unsur tertentu dalam pandangan orang Cina mengenai Dunia.
1. Etnosentrisme. Sejarah terutamaberhubungan dengan “kerajaan ditengah” yaitu bagsa bar-bar yang harus dikucilkan dari kebudayaan Cina yang merngakibatkan adanya isolasi kebudayaan Cina hanya mempunyai pengetahuan sedikit tentang kebudayaan besar lain.
2. Holisme. Pandangan bahwa manusia dan kejadian alam saling berkaitan secara menyeluruh.
3. Pandangan bahwa sejarah merupakan tanggung jawab yang berasal dari masa keemasan.
4. Konsep siklus dalam sejarah politik.
5. Pandangan bahwa ada suatu dinamika moral dalam berbagai kegiatan manusia.
B. Bidang dan Tujuan Historiografi
Tujuan penulisan sejarah terikat dengan keinginan kelas pejabat negara pada umumnya. Yaitu:
Memelihara stabilitas dan ketentraman dengan cara dujalankannya pemerintahan dan ditegakkannya pengawasan sosial, memelihara kekolotan Confusianis, memelihara etika-etika dasar Confusionis dalam masyarakat dalam kesusasteraan dan kesenian, dan perlindungan kedudukan golongan literay dan gentry dari ancaman kaisar yang otokratis atau golongan yang haus kekuasaan.
Ruang lingkup penulisan sejarah Cina:
• Pemusatan perhatian sangat besar terhadap sejarah politik dan pelajaran mengenai stabilitas dan perubahan yang dapat ditarik dari situ.
• Sejarah pranata dilihat dari ibu kota dan dari kaca mata resmi. Bagian ekonomi, dipusatkan pada fungsi reguler pemerintahan.
• Sedikit perhatian terhadap kelompok-kelompok yang berlawanan dengan golongan literati.
• Sedikit tentang agama-agama yang dianggap murtad.
C. Metode Sejarah.
Metode yang digunakan Sejarawan Cina dapat dibagi menjadi dua kelompok.
1. Metode pencatatan kejadian-kejadian komtemporer.
=> Para sejarawan istana bertugas mencatat setiap hari segala peristiwa istana.
=> Sejarawan tak resmi, mencatat peritiwa-peristiwa yang dialaminya.
2. Metode kompilasi berdasarkan urutan waktu dari catatan-catatan diatas.
=> Dari masa ke masa sejarawan istana mengedit dan mengambil intisari catatan sehari- hari seta menyusunya berdasarkan urytan waktu.
=> Hal serupa juga dilakukan oleh sejarawan tak resmi.
D. Modernisasi Historiografi.
Historiografi tradisional Cina terhenti karena adanya beberapa hal yang mempengaruhi perkembangn historiografi yaitu:
> Terjadinya fase-fase runtuhnya sistem kekaisaran di Cina.
> Masuknya pengaruh Barat.
Mula 1905 sistem ujian negara dihapuskan, diiringi dengan reformasi cepat di bidang pendidikan. Universitas-universitas terkenal dalm tahun 1930-1931, menyediakan beberapa kedudukan bagi sejarawan. Lembaga terkemuka unruk penelitian lanjutan adalah lembaga sejarah dan filologi, sebagai cabang dari Academia Sib=nica yang dibentuk pemerintah pada tahun 1928.
Tahun 1930-1945 menjadi masa suram akibat dari serangan Jepang. 1945-1949, pemerintah nasionalis bersikap tidak toleran terhadap pendapat yang berbeda, sehingga keadaan menjadi tegang dan penindasan makin banyak terjadi. Tahun 1949 para sejarawan harus memilih untuk tinggal di cina atau menyingkir ke Taiwan. Kebanyakan fdari mereka memilih tinggal. Setelah tahun 1949 ada dua pusat penelitian sejarah yaitu Republik Rakyat Cina dan Republik Cina di Taiwan.
Sejak 1949 sejarawan RRC selalu dipaksa untuk menyempurnakan penguasaan atas Marxisme dan menggunakan teori-teori Marxis untuk memunculkan sejaran baru dengan segera, yang cocok dengan pemerintahan baru. Pada umunya alasan-alasan dogmatik telah mengakibatkan studi sejarah di Cina menjadi steril.
Di Taiwan, Acamedica Sinica dihidupkan kembali. Universitas Nasional Taiwan mempunyai fakultas sejarah. Beberapa terbitan berseri terdahulu dari Academica Sinica dicetak kembali, akan tetapi suatu kenyataan bahwa masyarakat sejarah di Taiwan sangat kecil dan terbatas.
Sumber:
Wiodayanta, Danar. 2002. Diktat Kuliah: Perkembangan Historiografi Tinjauan di Berbagai Wilayah Dunia. Yogyakarta: UNY.
1. Kaisar Kuning (Huang Ti), untuk pertama kali melakukan penunjukkan sejarawan-sejarawan istana. Huang Ti merupakan salah satu pembentuk legendaris kebudayaan Cina.
2. Dinasti Shang (1751-1111 SM).
Arkheologi modern membuktikkan bahwa peramal istana dinasti Shang, telah menyimpan “arsip-arsip” ramalan mereka yang dituliskan pada tulang dan batok kura-kura.
3. Masa awal dinasti Chuo (1111-221 SM)
Catatan terpisah-pisah, terutama bab tertentu dari Shu Ching atau “Sejarah Klasik” mencerminkan suatu minat yang terus menerus pada sejarah keturunan para raja, tata cara dan legitimasi politik.
Zaman negara-negara Berperang (Chan Kuo, 481-221 SM), untuk pertama kalinya muncul pemikiran-pemiiran Cina yang sistematis. Kebiasaan yang selalu mengambil tokoh-tokoh sejarah merupakan faktor penting dalam pemikiran Cina. Confusius (551-479 SM) dan para pengikutnya sangat menekankan inti moral sejarah.
Negara kesatuan yang terbentuk pada tahun 221 SM, merupakan model perkembangan politik Cina pada masa-masa kemudian. Istana meneruskan dan memperkembangkan tradisi masa lalu dalam hal memperkerjakan sejarawan yang diberi tugas memelihara catatan-catatan kegiatan kaisar dan segala macam kejadian penting di dalam kerajaan.
4. Masa dinasti Han Awal (Ch’ien Han, 206 SM-9SM)
Sejarawan agung Ma-ch’ien meneruskan pekerjaan ayahnya menyusun sejarah. Ia menulis Shih,h Chi kitab sejarah pertama yang memuat sejarah Cina dari zaman yang samar-samar sampai pada kira-kira tahun 100 SM.
5. Masa dinasti Han Kemudian (Hou Han, 25-220 M)
Pan-pu, sejarawan istana, menulis kitab sejarah yang merupakan buku pertama dari rangkaian “sejarah dinasti” (tuan-tai sihih). Buku ini diberi nama Sejarah Dinasti Han Awal (Ch’ien Han Shu). Buku Shih Chi dan Ch’ien Han Shu menjadi model dan ditiru para sejarawan lainnya untuk penulisan buku-buku sejarah dinasti pada masa kemudian.
6. Zaman Perpecahan (220-586 SM), dominasi bangsa ‘bar-bar’.
Budhisme perlahan merembes ke dalam pemikiran bangsa Cina, namun demikian Budhisme hanya berpengaruh sangat kecil terhadap pemikiran kesejarahan Cina. Masa awal zaman ini merupakan zaman besar kedua pemikiran kreatif Cina. Liu Hsieh 9465-522 SM), menulis sebuah buku besar mengenai kesusasteraan. Sebagian buku ini membahas pula berbagai masalah historiografi yaitu pentingnya prinsip-prinsip umum, batasan-batasan untuk memilih hal-hal khusus, ukuran untuk mempercayai materi, serta persoalan keobyektifan dan prasangka.
7. Dinasti Tang (618-906) Zaman keemasan kesenian dan kesusasteraan.
Untuk pertama kalinya sejarah menjadi bahan baku dalam kurikulum ujian negara. Seorang pejabat negara Tu Yu (735-812) berusaha membebaskan diri dari tradisi-tradisi catatan dinasti dan menulis T’ung Tien. Berbentuk ensiklopedia dan dianggap sebagai sejarah institusional Cina yang pertama. Pada masa awal Tang diadakan perluasan atas aparat birokrasi yang bertugas mencatat peristiwa-peristiwa, memproses dokumuan, memeliharaarsip dan menulis sejarah.
Dalam menyusun sejarah dinasti, komisi-komisi kekaisaran telah menggantikan pengarang pers diadakan perluasan atas aparat birokrasi yang bertugas mencatat peristiwa-peristiwa, memproses dokumuan, memeliharaarsip dan menulis sejarah.
Dalam menyusun sejarah dinasti, komisi-komisi kekaisaran telah menggantikan pengarang perseorangan. Gejala ini mengawali adanya pembagian historiografi resmi dan tidak resmi yang terus berakhir sampai berakhirnya sistem kekaisaran.
8. Masa Sung (960-1279)
Penulisan sejarah para neo-Confusianisme memperlihatkan suatu kecermatan baru dalam menulis sejarah, kecenderungan untuk menggunakan sumber-sumber tak resmi dan usaha keras untuk menerangkan secara rasional yang dikombinasikan dengan kepercayaan kuat akan kekuatan moral.
9. Masa Dinasti Manchu (Ching, 1644-1911).
Perasaan yang tidak puas atas kekolotan neo-Confusianisme telah menyebabkan timbulnya suatu gerakan kritik yang sangat penting. Empirisme-rasional menyebabkan munculnya prinsip dan metode baru dalam geografis-historis, epigrafi, ilmu purbakala dan bidang-bidang lain. Ketika sistem kekaisaran runtuh. Metode dan semangat keraguan sejarawan baru tergambar secara luas dalam modernisasi historiografi Cina.
A. Pandangan Orang Cina tentang Sejarah
Istilah shih (sejarah) dalam terminologi Cina memiliki bermacam-macam arti. Konsepsi Cina mengenai sejarah ditentukan oleh unsur-unsur tertentu dalam pandangan orang Cina mengenai Dunia.
1. Etnosentrisme. Sejarah terutamaberhubungan dengan “kerajaan ditengah” yaitu bagsa bar-bar yang harus dikucilkan dari kebudayaan Cina yang merngakibatkan adanya isolasi kebudayaan Cina hanya mempunyai pengetahuan sedikit tentang kebudayaan besar lain.
2. Holisme. Pandangan bahwa manusia dan kejadian alam saling berkaitan secara menyeluruh.
3. Pandangan bahwa sejarah merupakan tanggung jawab yang berasal dari masa keemasan.
4. Konsep siklus dalam sejarah politik.
5. Pandangan bahwa ada suatu dinamika moral dalam berbagai kegiatan manusia.
B. Bidang dan Tujuan Historiografi
Tujuan penulisan sejarah terikat dengan keinginan kelas pejabat negara pada umumnya. Yaitu:
Memelihara stabilitas dan ketentraman dengan cara dujalankannya pemerintahan dan ditegakkannya pengawasan sosial, memelihara kekolotan Confusianis, memelihara etika-etika dasar Confusionis dalam masyarakat dalam kesusasteraan dan kesenian, dan perlindungan kedudukan golongan literay dan gentry dari ancaman kaisar yang otokratis atau golongan yang haus kekuasaan.
Ruang lingkup penulisan sejarah Cina:
• Pemusatan perhatian sangat besar terhadap sejarah politik dan pelajaran mengenai stabilitas dan perubahan yang dapat ditarik dari situ.
• Sejarah pranata dilihat dari ibu kota dan dari kaca mata resmi. Bagian ekonomi, dipusatkan pada fungsi reguler pemerintahan.
• Sedikit perhatian terhadap kelompok-kelompok yang berlawanan dengan golongan literati.
• Sedikit tentang agama-agama yang dianggap murtad.
C. Metode Sejarah.
Metode yang digunakan Sejarawan Cina dapat dibagi menjadi dua kelompok.
1. Metode pencatatan kejadian-kejadian komtemporer.
=> Para sejarawan istana bertugas mencatat setiap hari segala peristiwa istana.
=> Sejarawan tak resmi, mencatat peritiwa-peristiwa yang dialaminya.
2. Metode kompilasi berdasarkan urutan waktu dari catatan-catatan diatas.
=> Dari masa ke masa sejarawan istana mengedit dan mengambil intisari catatan sehari- hari seta menyusunya berdasarkan urytan waktu.
=> Hal serupa juga dilakukan oleh sejarawan tak resmi.
D. Modernisasi Historiografi.
Historiografi tradisional Cina terhenti karena adanya beberapa hal yang mempengaruhi perkembangn historiografi yaitu:
> Terjadinya fase-fase runtuhnya sistem kekaisaran di Cina.
> Masuknya pengaruh Barat.
Mula 1905 sistem ujian negara dihapuskan, diiringi dengan reformasi cepat di bidang pendidikan. Universitas-universitas terkenal dalm tahun 1930-1931, menyediakan beberapa kedudukan bagi sejarawan. Lembaga terkemuka unruk penelitian lanjutan adalah lembaga sejarah dan filologi, sebagai cabang dari Academia Sib=nica yang dibentuk pemerintah pada tahun 1928.
Tahun 1930-1945 menjadi masa suram akibat dari serangan Jepang. 1945-1949, pemerintah nasionalis bersikap tidak toleran terhadap pendapat yang berbeda, sehingga keadaan menjadi tegang dan penindasan makin banyak terjadi. Tahun 1949 para sejarawan harus memilih untuk tinggal di cina atau menyingkir ke Taiwan. Kebanyakan fdari mereka memilih tinggal. Setelah tahun 1949 ada dua pusat penelitian sejarah yaitu Republik Rakyat Cina dan Republik Cina di Taiwan.
Sejak 1949 sejarawan RRC selalu dipaksa untuk menyempurnakan penguasaan atas Marxisme dan menggunakan teori-teori Marxis untuk memunculkan sejaran baru dengan segera, yang cocok dengan pemerintahan baru. Pada umunya alasan-alasan dogmatik telah mengakibatkan studi sejarah di Cina menjadi steril.
Di Taiwan, Acamedica Sinica dihidupkan kembali. Universitas Nasional Taiwan mempunyai fakultas sejarah. Beberapa terbitan berseri terdahulu dari Academica Sinica dicetak kembali, akan tetapi suatu kenyataan bahwa masyarakat sejarah di Taiwan sangat kecil dan terbatas.
Sumber:
Wiodayanta, Danar. 2002. Diktat Kuliah: Perkembangan Historiografi Tinjauan di Berbagai Wilayah Dunia. Yogyakarta: UNY.
PERKEMBANGAN HISTORIOGRAFI CINA
Cina merupakan suatu bangsa yang memiliki sejarah tertua yang tidak terputus di dunia. Pada mulanya sejarah Cina merupakan perpaduan antara cara-cara magico-religio dengan penyimpanan catatan. Hal ini mempunyai akibat sangat besar terhadap tradisi sejarah dinegeri Cina.
1. Kaisar Kuning (Huang Ti), untuk pertama kali melakukan penunjukkan sejarawan-sejarawan istana. Huang Ti merupakan salah satu pembentuk legendaris kebudayaan Cina.
2. Dinasti Shang (1751-1111 SM).
Arkheologi modern membuktikkan bahwa peramal istana dinasti Shang, telah menyimpan “arsip-arsip” ramalan mereka yang dituliskan pada tulang dan batok kura-kura.
3. Masa awal dinasti Chuo (1111-221 SM)
Catatan terpisah-pisah, terutama bab tertentu dari Shu Ching atau “Sejarah Klasik” mencerminkan suatu minat yang terus menerus pada sejarah keturunan para raja, tata cara dan legitimasi politik.
Zaman negara-negara Berperang (Chan Kuo, 481-221 SM), untuk pertama kalinya muncul pemikiran-pemiiran Cina yang sistematis. Kebiasaan yang selalu mengambil tokoh-tokoh sejarah merupakan faktor penting dalam pemikiran Cina. Confusius (551-479 SM) dan para pengikutnya sangat menekankan inti moral sejarah.
Negara kesatuan yang terbentuk pada tahun 221 SM, merupakan model perkembangan politik Cina pada masa-masa kemudian. Istana meneruskan dan memperkembangkan tradisi masa lalu dalam hal memperkerjakan sejarawan yang diberi tugas memelihara catatan-catatan kegiatan kaisar dan segala macam kejadian penting di dalam kerajaan.
4. Masa dinasti Han Awal (Ch’ien Han, 206 SM-9SM)
Sejarawan agung Ma-ch’ien meneruskan pekerjaan ayahnya menyusun sejarah. Ia menulis Shih,h Chi kitab sejarah pertama yang memuat sejarah Cina dari zaman yang samar-samar sampai pada kira-kira tahun 100 SM.
5. Masa dinasti Han Kemudian (Hou Han, 25-220 M)
Pan-pu, sejarawan istana, menulis kitab sejarah yang merupakan buku pertama dari rangkaian “sejarah dinasti” (tuan-tai sihih). Buku ini diberi nama Sejarah Dinasti Han Awal (Ch’ien Han Shu). Buku Shih Chi dan Ch’ien Han Shu menjadi model dan ditiru para sejarawan lainnya untuk penulisan buku-buku sejarah dinasti pada masa kemudian.
6. Zaman Perpecahan (220-586 SM), dominasi bangsa ‘bar-bar’.
Budhisme perlahan merembes ke dalam pemikiran bangsa Cina, namun demikian Budhisme hanya berpengaruh sangat kecil terhadap pemikiran kesejarahan Cina. Masa awal zaman ini merupakan zaman besar kedua pemikiran kreatif Cina. Liu Hsieh 9465-522 SM), menulis sebuah buku besar mengenai kesusasteraan. Sebagian buku ini membahas pula berbagai masalah historiografi yaitu pentingnya prinsip-prinsip umum, batasan-batasan untuk memilih hal-hal khusus, ukuran untuk mempercayai materi, serta persoalan keobyektifan dan prasangka.
7. Dinasti Tang (618-906) Zaman keemasan kesenian dan kesusasteraan.
Untuk pertama kalinya sejarah menjadi bahan baku dalam kurikulum ujian negara. Seorang pejabat negara Tu Yu (735-812) berusaha membebaskan diri dari tradisi-tradisi catatan dinasti dan menulis T’ung Tien. Berbentuk ensiklopedia dan dianggap sebagai sejarah institusional Cina yang pertama. Pada masa awal Tang diadakan perluasan atas aparat birokrasi yang bertugas mencatat peristiwa-peristiwa, memproses dokumuan, memeliharaarsip dan menulis sejarah.
Dalam menyusun sejarah dinasti, komisi-komisi kekaisaran telah menggantikan pengarang pers diadakan perluasan atas aparat birokrasi yang bertugas mencatat peristiwa-peristiwa, memproses dokumuan, memeliharaarsip dan menulis sejarah.
Dalam menyusun sejarah dinasti, komisi-komisi kekaisaran telah menggantikan pengarang perseorangan. Gejala ini mengawali adanya pembagian historiografi resmi dan tidak resmi yang terus berakhir sampai berakhirnya sistem kekaisaran.
8. Masa Sung (960-1279)
Penulisan sejarah para neo-Confusianisme memperlihatkan suatu kecermatan baru dalam menulis sejarah, kecenderungan untuk menggunakan sumber-sumber tak resmi dan usaha keras untuk menerangkan secara rasional yang dikombinasikan dengan kepercayaan kuat akan kekuatan moral.
9. Masa Dinasti Manchu (Ching, 1644-1911).
Perasaan yang tidak puas atas kekolotan neo-Confusianisme telah menyebabkan timbulnya suatu gerakan kritik yang sangat penting. Empirisme-rasional menyebabkan munculnya prinsip dan metode baru dalam geografis-historis, epigrafi, ilmu purbakala dan bidang-bidang lain. Ketika sistem kekaisaran runtuh. Metode dan semangat keraguan sejarawan baru tergambar secara luas dalam modernisasi historiografi Cina.
A. Pandangan Orang Cina tentang Sejarah
Istilah shih (sejarah) dalam terminologi Cina memiliki bermacam-macam arti. Konsepsi Cina mengenai sejarah ditentukan oleh unsur-unsur tertentu dalam pandangan orang Cina mengenai Dunia.
1. Etnosentrisme. Sejarah terutamaberhubungan dengan “kerajaan ditengah” yaitu bagsa bar-bar yang harus dikucilkan dari kebudayaan Cina yang merngakibatkan adanya isolasi kebudayaan Cina hanya mempunyai pengetahuan sedikit tentang kebudayaan besar lain.
2. Holisme. Pandangan bahwa manusia dan kejadian alam saling berkaitan secara menyeluruh.
3. Pandangan bahwa sejarah merupakan tanggung jawab yang berasal dari masa keemasan.
4. Konsep siklus dalam sejarah politik.
5. Pandangan bahwa ada suatu dinamika moral dalam berbagai kegiatan manusia.
B. Bidang dan Tujuan Historiografi
Tujuan penulisan sejarah terikat dengan keinginan kelas pejabat negara pada umumnya. Yaitu:
Memelihara stabilitas dan ketentraman dengan cara dujalankannya pemerintahan dan ditegakkannya pengawasan sosial, memelihara kekolotan Confusianis, memelihara etika-etika dasar Confusionis dalam masyarakat dalam kesusasteraan dan kesenian, dan perlindungan kedudukan golongan literay dan gentry dari ancaman kaisar yang otokratis atau golongan yang haus kekuasaan.
Ruang lingkup penulisan sejarah Cina:
• Pemusatan perhatian sangat besar terhadap sejarah politik dan pelajaran mengenai stabilitas dan perubahan yang dapat ditarik dari situ.
• Sejarah pranata dilihat dari ibu kota dan dari kaca mata resmi. Bagian ekonomi, dipusatkan pada fungsi reguler pemerintahan.
• Sedikit perhatian terhadap kelompok-kelompok yang berlawanan dengan golongan literati.
• Sedikit tentang agama-agama yang dianggap murtad.
C. Metode Sejarah.
Metode yang digunakan Sejarawan Cina dapat dibagi menjadi dua kelompok.
1. Metode pencatatan kejadian-kejadian komtemporer.
=> Para sejarawan istana bertugas mencatat setiap hari segala peristiwa istana.
=> Sejarawan tak resmi, mencatat peritiwa-peristiwa yang dialaminya.
2. Metode kompilasi berdasarkan urutan waktu dari catatan-catatan diatas.
=> Dari masa ke masa sejarawan istana mengedit dan mengambil intisari catatan sehari- hari seta menyusunya berdasarkan urytan waktu.
=> Hal serupa juga dilakukan oleh sejarawan tak resmi.
D. Modernisasi Historiografi.
Historiografi tradisional Cina terhenti karena adanya beberapa hal yang mempengaruhi perkembangn historiografi yaitu:
> Terjadinya fase-fase runtuhnya sistem kekaisaran di Cina.
> Masuknya pengaruh Barat.
Mula 1905 sistem ujian negara dihapuskan, diiringi dengan reformasi cepat di bidang pendidikan. Universitas-universitas terkenal dalm tahun 1930-1931, menyediakan beberapa kedudukan bagi sejarawan. Lembaga terkemuka unruk penelitian lanjutan adalah lembaga sejarah dan filologi, sebagai cabang dari Academia Sib=nica yang dibentuk pemerintah pada tahun 1928.
Tahun 1930-1945 menjadi masa suram akibat dari serangan Jepang. 1945-1949, pemerintah nasionalis bersikap tidak toleran terhadap pendapat yang berbeda, sehingga keadaan menjadi tegang dan penindasan makin banyak terjadi. Tahun 1949 para sejarawan harus memilih untuk tinggal di cina atau menyingkir ke Taiwan. Kebanyakan fdari mereka memilih tinggal. Setelah tahun 1949 ada dua pusat penelitian sejarah yaitu Republik Rakyat Cina dan Republik Cina di Taiwan.
Sejak 1949 sejarawan RRC selalu dipaksa untuk menyempurnakan penguasaan atas Marxisme dan menggunakan teori-teori Marxis untuk memunculkan sejaran baru dengan segera, yang cocok dengan pemerintahan baru. Pada umunya alasan-alasan dogmatik telah mengakibatkan studi sejarah di Cina menjadi steril.
Di Taiwan, Acamedica Sinica dihidupkan kembali. Universitas Nasional Taiwan mempunyai fakultas sejarah. Beberapa terbitan berseri terdahulu dari Academica Sinica dicetak kembali, akan tetapi suatu kenyataan bahwa masyarakat sejarah di Taiwan sangat kecil dan terbatas.
Sumber:
Wiodayanta, Danar. 2002. Diktat Kuliah: Perkembangan Historiografi Tinjauan di Berbagai Wilayah Dunia. Yogyakarta: UNY.
Cina merupakan suatu bangsa yang memiliki sejarah tertua yang tidak terputus di dunia. Pada mulanya sejarah Cina merupakan perpaduan antara cara-cara magico-religio dengan penyimpanan catatan. Hal ini mempunyai akibat sangat besar terhadap tradisi sejarah dinegeri Cina.
1. Kaisar Kuning (Huang Ti), untuk pertama kali melakukan penunjukkan sejarawan-sejarawan istana. Huang Ti merupakan salah satu pembentuk legendaris kebudayaan Cina.
2. Dinasti Shang (1751-1111 SM).
Arkheologi modern membuktikkan bahwa peramal istana dinasti Shang, telah menyimpan “arsip-arsip” ramalan mereka yang dituliskan pada tulang dan batok kura-kura.
3. Masa awal dinasti Chuo (1111-221 SM)
Catatan terpisah-pisah, terutama bab tertentu dari Shu Ching atau “Sejarah Klasik” mencerminkan suatu minat yang terus menerus pada sejarah keturunan para raja, tata cara dan legitimasi politik.
Zaman negara-negara Berperang (Chan Kuo, 481-221 SM), untuk pertama kalinya muncul pemikiran-pemiiran Cina yang sistematis. Kebiasaan yang selalu mengambil tokoh-tokoh sejarah merupakan faktor penting dalam pemikiran Cina. Confusius (551-479 SM) dan para pengikutnya sangat menekankan inti moral sejarah.
Negara kesatuan yang terbentuk pada tahun 221 SM, merupakan model perkembangan politik Cina pada masa-masa kemudian. Istana meneruskan dan memperkembangkan tradisi masa lalu dalam hal memperkerjakan sejarawan yang diberi tugas memelihara catatan-catatan kegiatan kaisar dan segala macam kejadian penting di dalam kerajaan.
4. Masa dinasti Han Awal (Ch’ien Han, 206 SM-9SM)
Sejarawan agung Ma-ch’ien meneruskan pekerjaan ayahnya menyusun sejarah. Ia menulis Shih,h Chi kitab sejarah pertama yang memuat sejarah Cina dari zaman yang samar-samar sampai pada kira-kira tahun 100 SM.
5. Masa dinasti Han Kemudian (Hou Han, 25-220 M)
Pan-pu, sejarawan istana, menulis kitab sejarah yang merupakan buku pertama dari rangkaian “sejarah dinasti” (tuan-tai sihih). Buku ini diberi nama Sejarah Dinasti Han Awal (Ch’ien Han Shu). Buku Shih Chi dan Ch’ien Han Shu menjadi model dan ditiru para sejarawan lainnya untuk penulisan buku-buku sejarah dinasti pada masa kemudian.
6. Zaman Perpecahan (220-586 SM), dominasi bangsa ‘bar-bar’.
Budhisme perlahan merembes ke dalam pemikiran bangsa Cina, namun demikian Budhisme hanya berpengaruh sangat kecil terhadap pemikiran kesejarahan Cina. Masa awal zaman ini merupakan zaman besar kedua pemikiran kreatif Cina. Liu Hsieh 9465-522 SM), menulis sebuah buku besar mengenai kesusasteraan. Sebagian buku ini membahas pula berbagai masalah historiografi yaitu pentingnya prinsip-prinsip umum, batasan-batasan untuk memilih hal-hal khusus, ukuran untuk mempercayai materi, serta persoalan keobyektifan dan prasangka.
7. Dinasti Tang (618-906) Zaman keemasan kesenian dan kesusasteraan.
Untuk pertama kalinya sejarah menjadi bahan baku dalam kurikulum ujian negara. Seorang pejabat negara Tu Yu (735-812) berusaha membebaskan diri dari tradisi-tradisi catatan dinasti dan menulis T’ung Tien. Berbentuk ensiklopedia dan dianggap sebagai sejarah institusional Cina yang pertama. Pada masa awal Tang diadakan perluasan atas aparat birokrasi yang bertugas mencatat peristiwa-peristiwa, memproses dokumuan, memeliharaarsip dan menulis sejarah.
Dalam menyusun sejarah dinasti, komisi-komisi kekaisaran telah menggantikan pengarang pers diadakan perluasan atas aparat birokrasi yang bertugas mencatat peristiwa-peristiwa, memproses dokumuan, memeliharaarsip dan menulis sejarah.
Dalam menyusun sejarah dinasti, komisi-komisi kekaisaran telah menggantikan pengarang perseorangan. Gejala ini mengawali adanya pembagian historiografi resmi dan tidak resmi yang terus berakhir sampai berakhirnya sistem kekaisaran.
8. Masa Sung (960-1279)
Penulisan sejarah para neo-Confusianisme memperlihatkan suatu kecermatan baru dalam menulis sejarah, kecenderungan untuk menggunakan sumber-sumber tak resmi dan usaha keras untuk menerangkan secara rasional yang dikombinasikan dengan kepercayaan kuat akan kekuatan moral.
9. Masa Dinasti Manchu (Ching, 1644-1911).
Perasaan yang tidak puas atas kekolotan neo-Confusianisme telah menyebabkan timbulnya suatu gerakan kritik yang sangat penting. Empirisme-rasional menyebabkan munculnya prinsip dan metode baru dalam geografis-historis, epigrafi, ilmu purbakala dan bidang-bidang lain. Ketika sistem kekaisaran runtuh. Metode dan semangat keraguan sejarawan baru tergambar secara luas dalam modernisasi historiografi Cina.
A. Pandangan Orang Cina tentang Sejarah
Istilah shih (sejarah) dalam terminologi Cina memiliki bermacam-macam arti. Konsepsi Cina mengenai sejarah ditentukan oleh unsur-unsur tertentu dalam pandangan orang Cina mengenai Dunia.
1. Etnosentrisme. Sejarah terutamaberhubungan dengan “kerajaan ditengah” yaitu bagsa bar-bar yang harus dikucilkan dari kebudayaan Cina yang merngakibatkan adanya isolasi kebudayaan Cina hanya mempunyai pengetahuan sedikit tentang kebudayaan besar lain.
2. Holisme. Pandangan bahwa manusia dan kejadian alam saling berkaitan secara menyeluruh.
3. Pandangan bahwa sejarah merupakan tanggung jawab yang berasal dari masa keemasan.
4. Konsep siklus dalam sejarah politik.
5. Pandangan bahwa ada suatu dinamika moral dalam berbagai kegiatan manusia.
B. Bidang dan Tujuan Historiografi
Tujuan penulisan sejarah terikat dengan keinginan kelas pejabat negara pada umumnya. Yaitu:
Memelihara stabilitas dan ketentraman dengan cara dujalankannya pemerintahan dan ditegakkannya pengawasan sosial, memelihara kekolotan Confusianis, memelihara etika-etika dasar Confusionis dalam masyarakat dalam kesusasteraan dan kesenian, dan perlindungan kedudukan golongan literay dan gentry dari ancaman kaisar yang otokratis atau golongan yang haus kekuasaan.
Ruang lingkup penulisan sejarah Cina:
• Pemusatan perhatian sangat besar terhadap sejarah politik dan pelajaran mengenai stabilitas dan perubahan yang dapat ditarik dari situ.
• Sejarah pranata dilihat dari ibu kota dan dari kaca mata resmi. Bagian ekonomi, dipusatkan pada fungsi reguler pemerintahan.
• Sedikit perhatian terhadap kelompok-kelompok yang berlawanan dengan golongan literati.
• Sedikit tentang agama-agama yang dianggap murtad.
C. Metode Sejarah.
Metode yang digunakan Sejarawan Cina dapat dibagi menjadi dua kelompok.
1. Metode pencatatan kejadian-kejadian komtemporer.
=> Para sejarawan istana bertugas mencatat setiap hari segala peristiwa istana.
=> Sejarawan tak resmi, mencatat peritiwa-peristiwa yang dialaminya.
2. Metode kompilasi berdasarkan urutan waktu dari catatan-catatan diatas.
=> Dari masa ke masa sejarawan istana mengedit dan mengambil intisari catatan sehari- hari seta menyusunya berdasarkan urytan waktu.
=> Hal serupa juga dilakukan oleh sejarawan tak resmi.
D. Modernisasi Historiografi.
Historiografi tradisional Cina terhenti karena adanya beberapa hal yang mempengaruhi perkembangn historiografi yaitu:
> Terjadinya fase-fase runtuhnya sistem kekaisaran di Cina.
> Masuknya pengaruh Barat.
Mula 1905 sistem ujian negara dihapuskan, diiringi dengan reformasi cepat di bidang pendidikan. Universitas-universitas terkenal dalm tahun 1930-1931, menyediakan beberapa kedudukan bagi sejarawan. Lembaga terkemuka unruk penelitian lanjutan adalah lembaga sejarah dan filologi, sebagai cabang dari Academia Sib=nica yang dibentuk pemerintah pada tahun 1928.
Tahun 1930-1945 menjadi masa suram akibat dari serangan Jepang. 1945-1949, pemerintah nasionalis bersikap tidak toleran terhadap pendapat yang berbeda, sehingga keadaan menjadi tegang dan penindasan makin banyak terjadi. Tahun 1949 para sejarawan harus memilih untuk tinggal di cina atau menyingkir ke Taiwan. Kebanyakan fdari mereka memilih tinggal. Setelah tahun 1949 ada dua pusat penelitian sejarah yaitu Republik Rakyat Cina dan Republik Cina di Taiwan.
Sejak 1949 sejarawan RRC selalu dipaksa untuk menyempurnakan penguasaan atas Marxisme dan menggunakan teori-teori Marxis untuk memunculkan sejaran baru dengan segera, yang cocok dengan pemerintahan baru. Pada umunya alasan-alasan dogmatik telah mengakibatkan studi sejarah di Cina menjadi steril.
Di Taiwan, Acamedica Sinica dihidupkan kembali. Universitas Nasional Taiwan mempunyai fakultas sejarah. Beberapa terbitan berseri terdahulu dari Academica Sinica dicetak kembali, akan tetapi suatu kenyataan bahwa masyarakat sejarah di Taiwan sangat kecil dan terbatas.
Sumber:
Wiodayanta, Danar. 2002. Diktat Kuliah: Perkembangan Historiografi Tinjauan di Berbagai Wilayah Dunia. Yogyakarta: UNY.
Langganan:
Postingan (Atom)