Rabu, 03 Juni 2009

HISTORIOGRAFI ASIA SELATAN

Perkembangan histiografi di Asia selatan dapat dibagi dalam dua periode yakni tradisional dan modern. Pada masa historiografi tradisional sumber-sumber kesusateraan masih sangat kental. Sedangkan dalam historiografi modern lebih mengarah ke India hal ini dikarenakan Indialah yang paling mengesankan dalam kuantitas atau kualitasnya.
A. Historiografi Tradisional
Historiografi Asia Selatan Tradisional dapat dibedakan menjadi dua yakni:
1. Sebelum masuknya agama Islam ke India
Agama veda merupakan agama tertua yang berkitab suci, yang diperkenalkan pada komunitas animis yang masih buta huruf di Asia Selatan. Agama ini menghasilkan tarikh-tarikh dalam bentuk Purana. Tradisi Purana ini kemudian diperluas dengan tarikh-tarikh dinasti, namun tetap memiliki ciri-ciri:
a. Tidak dikenal umum.
b. Dibesar-besarkan.
c. Kurang data yang otentik.
d. Pengabaian topografi dan kronologi.
Epik Mahabarata dan Ramayana banyak berpengaruh dan banyak dipakai sebagai sumber dalam suatu tradisi historiografi. Kedua epik ini bersama-bersama dengan cerita Pancatrata dan Jataka dari agama Budha menjadi sumber dari cerita-cerita jenaka dan tradisi berkisah untuk penulisan geneologis Budhis dan kronik-kronik di Srilanka. Di Srilanka dalam perkembangannya muncul tradisi wamsa (terutama kronik yang dikenal dengan Dipavamsa,


Mahamvasa, dan Culavamsa) menghasilkan beberapa kronik dengan prakarsa kraton, timbullah suatu tradisi ;penulisan sejarah. Karya-karya ini terbentuk tarikh dan kisah jenaka, ditulis dalam bentuk sanjak, serta pemakaiannya terbatas dikalangan kraton.
2. Setelah Masuknya Agama Islam ke India.
Suatu tradisi penulisan sejarah yang sudah berkembang baik diperkenalkan, dan selama enam abad lebih suatu cabang historiografi Islam menguasai Asia Selatan. Ciri-ciri utama penulisan Islam:
a. Terikat pada kepentingan-kepentingan kekuasaan yang sortodoks.
b. Cenderung mengabdi pada Tuhan dan komunitas Islam.
c. Ditujukan pada pendidikan moral dan agama melalui kisah-kisah nabi-nabi, kalifah-kalifah, sultan-sultan dan orang-orang besar dikalangan agama maupun kalangan pemerintah dari warisan sejarah India, dan dapat dikatakan sebagai bagian integral dari historiografi Asia Selatan.
B. Historiografi Modern
a. Ilmu pengetahuan barat di India mulai berkembang ketika terbentuk Society di Calcutta tahun 1784 yang didirikan oleh William James. Kegiatan lembaga ini mengenai penelitian dunia timur. Lahir pula lembaga-lembaga sejenis di Bombay, Madras, Mysore dan Srilanka, serta pertumbuhan lemabaga-lembaga ilmiahdi Perancis dan Jerman, seta ada kajian-kajiandi Eropa dalam abad ke-19, meriupakan landasan bagi perkembangan historiografi modern di asia selatan.
Sumbangan yang paling penting pada awalnya adalah dalam bidang:
a. Filiologi Sanskrit dan pengeditan teks-teks dari agama Veda dan agama Budha.
b. Penelitian tentang kepurbakalaan India, sebagai peletak dasae untuk menghadapi bahan-bahan dari India kuno yang sebelumnya tidak dapat dipelajari.
c. bidang Pra-Islam. Periode ini sangat menarikkarena tidak ada kronologi, tidak ada geneologi yang dapat dipercaya, dan tidak ada ketentuan yang dapat menjelaskan amnusia dengan tepat.
Abad ke-20 historiografi Asia Selatan mulai terpengaruh secara langsung dan kuat oleh metodologi Barat. Ada dua cara:
a. Suatu penghargaan yang lebih mendalam terhadap metode-metode ilmiah barat, terutama setelah penelitian arkheologis yang paling gemilang terhadap Mohenjodaro dan Harrapa.
b. Pendekatan Nasionalitis dan anti Imperialistis, yang dalam bentuknya yang paling ekstrim menghasilkan penulisan-penulisan sejarah yang buruk dan revisionitas pada satu pihak, dan pada pihak lain memberi perangsang bagi historiografi Marxis dan lain-lain dalam bentukhistoriografi yang radikal.
India setelah kemerdekaan, penulisan sejarah berkembang terus terutama melalui lembaga-lembaga seperti:
- Archeological Survey (Dinas Arkheologi)
- History Records Commission (Komisi Arsip Sejarah)
- India History Congress (Konggres Sejarah India)
Pernah mengadakan konferensi tentang Sejarah Asia pada tahun 1961 dan pertemuan Internasional dari International Conggres of Orientallis (Konggres Internasioanl ahli-ahli mengenai dunia Timur) yang diadakan New Delhi tahun 1965.
Di Pakistan perkembangan Historiografi sejak tahun 1947 kurang menonjol. Pemisahannya dengan India menyebabkan negara baru ini kekurangan fasilitas penelitian. Para sejarahwan Pakistan mulai menghidupkan kembali tradisi-tradisi historiografi Islam. Karya-karya terpenting dihasilkan oleh A. Yusuf Ali, Shafa”at Ahmad Khan dan I.H. Qureshi, yang sudah terkenal sebelum pemisahan dengan India.
Di Sri Lanka perkembangan historiografi agak terlambat. Namun hasilnya dapat disaksikan dalam penerbitan-penerbitan dari Ceylon Branch of the Royal Asiatic Society (Cabang Sri Lanka dari Masyarakat Kerajaan Asia), dan Ceylon Journal of Historical and Social Studies (Jurnal Sri Lanka untuk studi sejarah dan sosial)yang belum lama terbentuk.

1 komentar: