Tampilkan postingan dengan label dasar-dasar sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dasar-dasar sejarah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Maret 2009

heuristik

Pengumpulan Sumber: Heuristik
Heuristik (dari bahasa Yunani : Heuriskein yang artinya menemukan). Jadi tahap heuristic adalah kegiatan sejarawan untuk mengumpulkan sumber, jejak – jejak sejarah yang diperlukan. Kalau kita mengingat bahwa sejarah itu terdiri begitu banyak periode dengan segala aspek kehidupan seperti : politik, ekonomi, social, kebudayaan, hukum, militer, pertanian dan sebagainya, maka kita perrlu mencari sumber yang beraneka ragam.
Untuk memudahkan dalam suatu penelitian, sumber – sumber sejarah yang begitu kompleks dan banyak jenisnya itu perlu diklerifikasi. Karena itu di dalam pembahasan tentang sumber sejarah sudah dijelaskan berbagai jenis sumber sejarah.

A. Beberapa pernyataan dasar.
Sebelum kita melakukan penelitian dan penulisan sejarah, khususnya kegiatan pengumpulan sumber – sumber sejarah, ada beberapa catatan penting yang menjadi modal untuk menjadi sejarawan professional.
1. Sejarawan “Ideal”
Seorang sejarawan yang ideal, baik sebagai sejarawan peneliti (sejarawan profesional, atau praktisi sejarah) maupun sebagai sejarawan pendidik (guru sejarah), perlu mempunyai latar belakang, kemampuan, sikap atau itikad yang menjadi kelengkapannya.
2. Enam Langkah penelitian
a. Memilih suatu objek yang sesuai;
b. Mengusut semua bukti yang relevan dengan topic;
c. Membuat catatan tentang itu apa saja yang dianggap penting dan relevan dengan topic yang ditemukan ketika penelitian sedang berlangsung.
d. Mengevaluasi secara kritis semua bukti yang telah dikumpulkan;
e. Menyusun hasil – hasil penelitian ke dalam suatu pola yang benar;
f. Menyajikan ke dalam suatu cara yang dapat menarik perhatian dan mengkomunikasikannya kepada para pembaca.
3. Memilih Topik
a. Nilai (Value)
Topik itu harus sanggup memberikan penjelasan atas suatu yang berarti dan dalam arti suatu yang universal, aspek dari pengalaman manusia barang kali melalui pendekatan kaji kasus atau dengan mendemonstrasikan hubungannya dengan gerakan yang lebih besar.
b. Keaslian (Originality)
Jika subjek yang dipilih telah dikaji dalam penelitian yang lebih dahulu, anda harus yakin bahwa anda dapat menampilkan salah satu atau kedua – duanya :
1) Bukti baru yang sangat substansial dan signifiakan, atau suatu
2) Interpretasibaru dari bukti yang valid dan dapat ditunjukkan.
c. Kepraktisan (Practicality)
1) Keberadaan sumber – sumber yang dapat diperoleh tanpa adanya kesulitan yang tidak rasional.
2) Kemampuan untuk menggunakan dengan benar sumber – sumber itu berdasarkan latar belakang atau pendidikan anda sebelumnya.
3) Ruang cakup peneitian.
d. Kesatuan (Unity)
Setiap penelitian harus mempunyai suatu kesatuan tema atau diarahkan kepada suatu kesatuan tema atau diarahkan kepada suatu pertanyaan atau proporsi yang bulat, yang akan memberikan peneliti suatu titik bertolak, suatu arah maju ke tujuan tertentu, serta sutu harapan atau janji yang akan melahirkan kesimpulan – kesimpulan yang khusus.

Senin, 30 Maret 2009

INTERPRETASI

INTERPRETASI (PENAFSIRAN)
Dalam penulisan sejarah ada tiga bentuk teknis dasar tulis-menulis yaitu deskripsi, narasi, dan analisis. Ketika sejarawan menulis – sebenarnya merupakan keinginannya untuk menjelaskan (eksplanasi) sejarah – ada dua dorongan utama yang menggerakkannya yakni mencipta-ulang (re-create) dan menafsirkan (interpret). Dorongan pertama menuntut deskripsi dan narasi, sedangkan dorongan kedua menuntut analisis. Sejarawan yang berorientasi pada sumber-sumber sejarah saja, akan menggunakan porsi deskripsi dan narasi yang lebih banyak, sedangkan sejarawan berorientasi kepada problema, selain menggunakan deskripsi dan narasi, akan lebih mengutamakan analisis. Akan tetapi apapun cara yang dipergunakan, semuanya akan bermuara pada sintesis.
Ketika para sejarawan menulis, disadari atau tidak, diakui atau tidak, dinyatakan secara eksplisit atau implisit, mereka berpegang pada salah satu atau kombinasi beberapa filsafat sejarah tertentu yang menjadi dasar penafisirannya. Bagi sejarawan yang enggan menggunakan istilah filsafat sejarah. Mungkin akan menyebutnya “acua kerja” (frame of reference), “perhatian” (Interest), atau “tekanan” (emphasis). Adapun filsafat sejarah bertujuan untuk memberikan arti atau makna kepada seluruh sejarah kegiatan manusia, kepada pola keseragaman (uniformity) dan keragaman (variety) dari gerak-gerak kegiatan manusia pada masa lalu. Dengan demikian filsafat sejarah itu merupakan :
1. Suatu petunjuk (guide) bagi suatu penafsiran yang valid dari materi sejarah;
2. Suatu pemahaman mengenai penyebab dan keberartian (signifikansi) dari peristiwa-peristiwa dan lembaga-lembaga yang dicatat dalam materi sejarah.
Adapun yang dapat dianggap sebagai faktor-faktor, tenaga-tenaga tetap dan mendasar dalam sejarah manusia ialah:
1. Manusia
Sejarah adalah kajian tentang kegiatan-kegiatan manusia yang merupakan manifestasi dari pikiran, perasaan, dan perbuatannya pada masa lalu. Dengan demikian manusia menjadi faktor dan pemegang peran utama.
2. Geografi
Bumi merupakan dunia fisik dimana manusia hidup dan sejarah berlangsung; bumi atau dunia seringkali diumpamakan sebagai panggung sejarah dan manusia sebagai pemegang peran utamanya.
3. Kebudayaan
Lingkungan kultural dimana manusia hidup di dalamnya. Manusia sebagai makhluk pada umumnya memerlukan kebutuhan-kebutuhan primer maupun sekunder supaya dapat bertahan hidup dan meningkatkan taraf hidup.
4. Supranatural atau Merafisik
Karena manusia adalah makhluk Tuhan, asal-usul dan tujuan hidupnya ditentukan oleh-Nya, maka bagi manusia yang percaya, Tuhan mempunyai kepentingan di dunia ini, pada manusia dan kegiatannya.
Bentuk-bentuk penafsiran deterministrik adalah:
1. Para sejarawan dari tipe Darwinisme sosial bermaksud menciutkan sejarah menjadi suatu ilmu fisik dengan memilih sesuatu yang bersifat fisik pada diri manusia (etnologis, keturunan, ras) sebagai faktor pengontrol dalam sejarah masyarakat dan bangsa-bangsa.
2. Penafsiran Geografis
Kelompok sejarawan ini juga melihat dari segi fisik sebagai pembuat sejarah dan dengan demikian mengecilkan peranan manusia. Mereka mencari kunci sejarah dalam lingkungan fisik di luar manusia, seperti faktor-faktor geografis: iklim, tanah.
3. Interpretasi Ekonomi
Filsafat sejarah lain yang juga deterministik ialah cara produksi (made of production) dalam kehidupan ekonomi suatu bangsa menentukan karakter umum sejarah bangsa itu seperti pola-pola politik, sosial, agama, kebudayaan.
4. Penafsiran “Orang Besar”
Para sejarawan dari kelompok Romantis seperti dua orang sejarawan Inggris Thomas Carlyle dan James A. Froude berpendapat bahwa yang menjadi faktor penyebab utama dalam perkembangan sejarah ialah tokoh-tokoh orang besar.
5. Penafsiran Spiritula atau Idealistik
Penafsiran ini erat hubungannya dengan peran jiwa, ide manusia dalam perkembangan sejarah.
6. Penafsiran Ilmu dan Teknologi
Penafsiran ini mencoba melihat kemajuan manusia mempunyai hubungan langsung dengan kemajuan ilmu alam dan teknologi.
7. Penafsiran Sosiologis
Penafsiran ini mencoba melihat asal-usul, struktur dan kegiatan masyarakat manusia dalm interaksinya dengan lingkungan fisiknya; masyarakat dan lingkungan fisik bersama-sama maju dalam suatu proses evolusi.
8. Penafsiran Sintesis
Penafsiran ini mencoba menggabungkan semua faktor atau tenaga yang menjadi penggerak sejarah.

Jumat, 27 Maret 2009

fakta sejarah

FAKTA SEJARAH
A. Dasar kepercayaan sejarah
Istilah pengetahuan terkadang hanya terbatas oleh apa yang kita pelajari dari pengalaman atau alasan, bukan dari kepercayaan. Pengetahuan logical termasuk dalam jarak yang berarti seluruh fakta dan kebenaran tertahan dari pikiran manusia, tidak berbelit – belit dari sumber yang diperoleh. Pengetahuan yang mana kita panggil sebagai dokumen sejarah atau pengetahuan kesejarahan, hampir seluruhnya disarkan pada kepercayaan, yang mungkin menjadi penegasan, sebuah persetujuan mental untuk suatu kebenaran atau fakta pada kata atau para ahli yang lain. Ada 2 bagian dalm proses tersebut. Seseorang (saksi, informan) menyampaikan pengetahuan dan seseorang ( yang percaya) menerima itu. Komunikasi aktual dari pengetahuan atau kesaksian mungkin menandakan isi penyampaian pengetahuan.
Kejadian yang telah terjadi sebagai sejarah dalam arti objektif tidak mungkin lagi diulang atau dialami kembali, akan tetapi bekas-bekasnya sebagai memori dapat diungkapkan atau diaktualisasikan. Bentuk pengungkapan kembali ialah pernyataan (statemen) tentang kejadian itu. Dengan demikian, jelaslah bahwa fakta sebenarnya telah merupakan produk dari proses mental (sejarawan) atau memorisasi. Oleh karena itu pada hakikatnya fakta juga bersifat subjektif, memuat unsur dari subjek.
Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum kita percaya terhadap keterangan saksi:
• Sebelum menerima kesaksian dari saksi, kita harus mempunyai beberapa cara yang menegaskan apa dia sungguh – sungguh atau dapat sebagai dugaan untuk memiliki pengetahuan dari kesaksian yang dia berikan.
• Seorang saksi harus menjadi kepercayaan yang baik, harus memiliki tujuan dan keinginan untuk menceritakan kebenaran serta melaporkan fakta sebagai yang di kenal. Kejujuran adalah yang paling dasar dari semua persyaratan kualifikasi seorang saksi.
• Komunikasi actual pengetahuannya ke orang lain. Orang dengan pengetahuan yang paling baik dan mungkin bermaksud membuktikan kepunyaannya yang tak memuaskan batas akhir kesaksian. Sempat kekurangan memori, kekuatan pernyataan yang tidak sempurna dan kebiasaan yang tidak sadar yang dilebih – lebihkan. Hal ini dapat mengakibatkan kesaksian seseorang sulit dipercaya.
Kepercayaan adalah kondisi mutlak dari kehidupan sosial setiap hari. Proporsi paling besar pengetahuan setiap orang diperoleh tidak dari pengalaman atau alasan pribadi tetap dengan kepercayaan yang diberikan oleh orang lain. Bersama dengan kepercayaan dari saksi, hanya fakta yang menentukan kesaksiannya.
Motif dari suatu kepercayaan adalah ide pokok yang terdapat dalam kepercayaan diterima karena sesuatu itu benar, pada dunia atau lainnya. Disisi lain kepercayaan tidak hanya langsung bersumber kepada saksi tetapi juga bukti – bukti yang dapat dihasilkannya untuk kejujuran atau kebenaran dari apa yang dikatakannya. Kemungkinan ini sering terjadi, dengan pertolongan dari referensi penulis, yang diberikan dalam catatan kaki untuk kembali ke sumber utama pernyataannya, yang sering kali perlu dilakukan dalam masalah kecil atau keraguan.
B. Dasar – Dasar kepastian sejarah
Fungsi utama dari metodologi adalah untuk mengidentifikasi cara dan arti dari penyampaian sejarah, yang mana dapat ditemukan atau diartikan sebagai persetujuan firma dari pikiran ke data sejarah tanpa alasan takut dikarenakan salah.
Berdasarkan pada motif alami yang mana ini berdasar, kepastian mungkin bermoral, fisik dan meta fisik.
a. Motif pekerjaan atau membenarkan
Moral kepastian diketahui sebagai penyeragaman atau mengumumkan beberapa hukum moral. Sejarah sebagian besar merupakan satu masalah keyakinan kesaksian pada yang lainnya, dan sebagai kesaksian merupakan satu masalah yang dikondisikan sifatnya yang sangat dasar oleh hukum-hukum moral, untuk sebagian besar bagian kepastian sejarah adalah pada sejarah yang ada. Kepastian yang bisa dicapai dalam sejarah seringnya hasil dari serangkaian kemungkinan yang terpusat yang memberikan tingkat kemungkinan yang paling tinggi yang jarang bisa dibedakan dari kepastian, dan karena itu para ahli logika sering menyebutnya “kepastian moral”. Kepastian moral seperti yang diaplikasikan dalam sejarah, mungkin didefiniskan sebagai “satu kepastian yang mengeluarkan semua keraguan yang masuk akal,”
b. Kepastian sejarah adalah perintah fisik ketika dasar atau motifnya adalah operasi seragam suatu hukum fisik yang diketahui. Hukum-hukum fisik dan kondisi-kondisi permainan yang merupakan satu bagian yang penting dalam penilaian bukti yang kritis. Misalnya, kita mengetahui bahwa pada waktu yang dihabiskan dalam satu perjalanan perlu dikondisikan oleh jarak untuk ditutupi dan alat trasportasi yang tersedia.
c. Kepastian Metafisika menemukan dasar-dasar prinsip yang mutlak dalam aplikasi-aplikasinya, tidak mengakui pengecualian. Hal semacam itu merupakan prinsip dari kontradiksi/pertentangan (“satu hal yang tidak bisa ada dan tidak ada pada waktu yang sama”) dan alasan yang cukup (“tidak ada yang ada tanpa satu alasan yang cukup,” satu prinsip penyebab yang berbeda). Kemungkinan kepastian metafisik dalam sejarah itu bersifat reduktif dalam karakter, sebagai contoh :“Fakta sejarah A yang dinyatakan tanpa bukti dilaporkan oleh beberapa saksi independen. Tetapi persetujuan mereka mungkin tidak bisa dijelaskan kecuali oleh kebenaran objektif dari fakta yang dilaporkan (prinsip alasan yang cukup). Akibatnya fakta A yang dikatakan itu pasti secara metafisik.”.
Fakta-fakta yang mungkin untuk membangun (dalam sejarah) adalah terutama yang mencakup satu ruang atau waktu yang luas (kadang-kadang disebut sebagai fakta-fakta umum), adat, doktrin, istitusi, peristiwa besar; fakta itu lebih mudah untuk diamati daripada yang lainnya dan sekarang lebih mudah untuk dibuktikan. Dalam kasus jaman purbakala dan jaman pertengahan, pemgetahuan sejarah dibatasi pada fakta-fakta umum dengan kelangkaan dokumen. Dasar-dasar dari kepastian sejarah merupakan pengalaman pribadi seseorang, atau kesaksian orang yang lain. Pengamalan pribadi, dimana pengalaman itu ada, bisa digantungkan sebagai sumber dari pengetahuan tertentu.

Sumber :
Garaghan, Gilbert. 1957. A Guide to Historical Method. New York: Fordham U.P.
Kartodirdjo, Sartono. 1992. Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi Sejarah. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
U.P.Hugiono. 1992. Pengantar Ilmu Sejarah. Jakarta : Rineka Cipta